Kamis, 26 September 2019

Qiraat



Artikel ini ditulis oleh: M. Jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir 5, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor, tahun 2019.

Menurut etimologi, qiraat adalah bentuk jamak dari qiraah, masdar dari kata kerja qara’a. Adapun menurut terminologi ilmiah, qiraat adalah salah satu mazhab dalam pelafalan Al-Qur’an yang dianut oleh salah seorang imam qari’ yang memiliki perbedaan dengan imam lainnya. Dan perlu diketahui qiraat memiliki sanad-sanadnya yang terhubung hingga kepada Rasulullah Saw. Dari itu tidak banyak orang yang tertarik kepadanya, kecuali orang-orang tertentu saja. Hal ini karena ilmu qiraat tidak mempelajari masalah-masalah yang berkaitan secara langsung dengan halal atau haram atau hukum-hukum tertentu dalam kehidupan manusia dan juga cukup rumit untuk mempelajarinya karna harus bisa menguasai bahasa arab secara umum ataupun khusus.
Al-Qiraat atau Qiraat didalam kehidupan para ahli Qiraat serimg dikenal dengan beberapa istilah yang mendominasi khazanah mereka, yaitu seperti istilah al-Qiraat sendiri, Alqur’an, dan tajwid. Kenapa kendati bisa dikatakan seperti itu, karena pada hakikatnya Al-qur’an sama-sama berasal dari asal kata qaraa, yang mana berarti bacaan. Akan tetapi diantara keduanya memiliki beberapa perbedaan. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh seorang ulama yang bernama Al-Zamarkasyi bahwa secara substansial, kedua istilah ini sangatlah berbeda. Al-Qur’an di satu pihak adalah wahyu tuhan yang disampaikan kepada nabi Muhammad Saw sebagai wahyu, baik menyangkut huruf-furufnya maupun cara pengucapannya.
Dan adapun perbedaan al-qiraat dan tajwid, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh seorang ulama yang bernama Hasanudin Af, bahwa al-qiraat mengarah pada cara pengucapan lafadz-lafadz Al-Qur’an yang hanya berkaitan dengan substansi lafadz, dalam kalimat ataupun dialek kebahasaan. Sedangkan tajwid, mencakup kaidah kaidah yang hanya bersifat teknis dalam upaya memperindah bacaan Al-Qur’an dengan cara membunyikan huruf-huruf Al-Qur’an tersebut dengan makhraj dan sifat-sifatnya.

Sejarah Qiraat.
Qiraat sendiri pada hakikatnya sudah ada ketika zaman kepemimpinan Utsman yang mana beliau mengirimkan mushaf-mushaf kebeberapa pelosok wilayah yang telah dikuasai Islam, pasca penaklukan di masa Abu Bakar dan Umar, yang mana beliau menyertakan oraang orang yang ahli dalam qiraat sesuai dengan qiraat dalam mushaf-mushaf itu, yang qiraat diantara mereka berbeda-beda, seperti halnya mereka mengambil Al-Qur’an dari sahabat yang berbeda pula.

Kriteria dan Klasifikasi Qiraat yang Diterima
1.      Seduai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab
2.      Sesuai dengan kaidah Rasm Utsamaniy dan
3.      Diriwayatkan dengan sanad yang salih
Berdasarkan persyaratan-persyaratan ini, maka para ulama mengklasifikasikan qiraat Al-Qur’an kepada enam tingkatan.
1.      Qiraat mutawatir, yaitu qiraat yang diriwayatkan oleh banyak orang yang tidak mungkin terjadi kesepakataan di antara mereka untuk berdusta.
2.      Qiraat masyhur, yaitu qiraat yang sanadnya sahih karena diriwayatkan oleh sanad yang adil, dhabit, yang sesuai dengan Rasm Utsamaniy.
3.      Qiraat shahih, yaitu qiraat yang sadnya shahih, tetapi menyalahi Rasm Utsamaniy dan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab.
4.      Qiraat maudhu’, yaitu qiraat yang dinisbahkan kepada orang yang mengucapkannya tannpa alasan dasar (dasar).
5.      Qiraat syadz, yaitu qiraat yang sanadnya tidak shahih (cacat) dan tidak bersambung kepada nabi Muhammad Saw.
6.      Qiraat mudraj, yaitu qiraat yang didalamnya ditambanh kalimat sebagai tafsir dari ayat tersebut.

Faedah qiraat
1.      Untuk memberikan kemudahan bagi umat Islam.
2.      Mempersatukan umat Islam dikalangan bangsa Arab yang relatif baru dalam satu bahasa yang mengikat persatuan diantara mereka.
3.      Membantu untuk memudahkan dan mengkaji tafsir Al-Qur’an.
4.      Menunjukan kepada dunia bahwasannya Al-Qur’an terjaga keasliannya terhadap perubahan dan penyimpangan-penyimpangan, kendati Al-Qur’an memiliki banyak Qiraat.
5.      Membuktikan kemukjizatan Al-Qur’an, baik dari segi lafazh maupun maknanya.

Refrensi Artikel:
1.      Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an, karya Manna’l Al-Qathathan, Maktabah Wahbah, Kairo.
2.      Uluml Qur’an, karya Drs. Supiana, M. Ag. Dkk, Pustaka Islamika. Bandung.
3.      Ulumul Qur’an, karya Dr. Acep Hermawan, M. Ag. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Senin, 23 September 2019

makkiyah dan madaniyah



Artikel ini ditulis oleh: M. Jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor, tahun 2019.

Ada seseorang orang alim ulama yang bernama Abu Al-Qasim Al-Nisaburiy ia pernah berkata. “Ilmu-ilmu Al-Qur’an yang paling mulia, ada banyak salah satunya adalah mengenai nuzulnya. Tempat dan urutan (ayat) yang turun di Mekah dan Madinah, ayat Al-Qur’an yang turun di Mekah hukumnya Makiyah, sedangkan ayat Al-Qur’an yang di turunkan di Madinah hukumnya Madaniyah. Sebagaian telah di jelaskan bahwa Al-Qur’an sampai kepada umat islam dan pertama kali diturunkan kepada nabi Muhammad s.a.w. melalui sebuah proses yang panjang yaitu dengan proses nuzul. Namun perlu kita ketahui bahwa ayat-ayat tersebut dinizulkan berdasarkan wilayah Makkah dan sekitarnya, baik sebelum maupun sesudah hijrah; di wilayah Madinah dan sekitarnya; didalam perjalanan, diwaktu pagi, siang, bahkan malam. untuk lebih mengetahui ayat-ayat tersebut, maka salah satu Ilmu untuk mengetahui hal ini, yakni ilmu al-makiy wa al-madaniy.
Maka dari itu kita harus mengenal lebih dekat tentang definisi Makkiyah dan Madaniyah. Dalam hubungan ini, setidaknya ada tiga definisi (ta’rif) yang mana definisi ini sering dikemukakan oleh pakarnya, yaitu:
1.      Makkiyah adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan sebelum hijrah. Sedangkan Madaniyah adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan sesudah hijrah.
2.      Makkiyah adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan di Mekah sekalipun turunnya ayat itu sesudah hijrah. Sedangkan Madaniyah adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan di Madinah.
3.      Makkiyah adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang khitab-nya ditunjukkan kepada penduduk Mekah. Sedangkan Madaniah adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang khitab-nya ditunjukan kepada penduduk Madinah.
Ada semacam isyarat-isyarat yang bisa di tangkap untuk membedakan ayat Makkiyah dan Madaniyah. Isyarat-isyarat yang bisa disebut dhawabith itu adalah sebagai berkut.
Ciri-ciri surah makkiyah
1.      Setiap surah yang didalamnya terdapat ayat sajdah.
2.      Terdapat kata kalla (كلا) disebagian besar atau seluruh ayatnya.
3.      Diawali huruf tahajji seperti qaf  (ق), nun (ن), dan ha mim (حم).
4.      Didalam nya terdapat kisah Adam dan iblis (kecuali surah Al-Baqarah).
5.      Didalamnya terdapat kisah para nabi dan umat-umat terdahulu.
6.      Didalamnya terdapat khitbah (seruan) kepada manusia (wahai semua manusia..)
7.      Menyeru dengan kalimat “Anak Adam”
8.      Isinya memberi penekanan pada masalah aqidah.
9.      Ayatnya pendek-pendek.
Ciri-ciri surah Madaniyah
1.      Setiap surah yang didalam nyaterdapat penjelasan tentang kewajiban dan had.
2.      Terdapat kalimat “wahai orang-orang yang beriman” pada ayat-ayatnya.
3.      Terdapat hukum-hukum faraidh, hudud, qishash, dan jihad didalamnya.
4.      Didalamnya menyebutkan “orang-orang munafik” (kecuali Al-Ankabut).
5.      Memuat bantahan terhadap Ahlu Al-Kitab (Yahudi dan Nasrani).
6.      Ayatnya panjang-panjang.
keistimewaan surah Makkiyah diantaranya adalah:
1.      Pembekalan aqidah Islam dalam jiwa melalui ajakan beribadah (penyembahan) kepada Allah yang Esa. Dan beriman kepada Risalah nabi Muhammad Saw.
2.      Penetapan dasar-dasar ibadah dan mu’amalah (pidana), etika, dan keutamaan-keutamaan umum.
3.      Perhatian terhadap rincian kisah-kisah para nabi dan umat-umatnya terdahulu.
keistimewaan surah Madaniyah diantaranya adalah:
1.      Al-Qur’an berbicara kepada masyarakat Madinah, pada umumnya berisi tentang penetapan hukum syari’ah, ibadah dan mu’amalah, sanksi-sanksi dan kewajiban-kewajiban, dan lain-lain.
2.      Mengungkapkan sifat-sifat kejahatan orang-orang munafik dan menguak rahasia mereka.
3.      Mengungkapkan semua kelicikan Ahlu Kitab yahudi dan Nasrani dan juga membeberkan rahasia mereka dan melemahkan kepercayaan mereka.

Refrensi Artikel:
1.       Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an, karya Manna’l Al-Qathathan, Maktabah Wahbah, Kairo.
2.      Uluml Qur’an, karya Drs. Supiana, M. Ag. Dkk, Pustaka Islamika. Bandung.
3.      Ulumul Qur’an, karya Dr. Fahd Bin Abdurrahman Ar-Rumi. Aswaja Pressindo. Yogyakarta.
4.      Ulumul Qur’an, karya Dr. Acep Hermawan, M. Ag. Remaja Rosdakarya. Bandung.

kitab tafsir al-Qurtuby

Contoh kitab Tafsir dan MetodologiPenulisannya Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, ...