Senin, 21 Desember 2020

Metode Psikoterapi Islam



Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor 2020.

Sebagai suatu ilmu, Psikoterapi islam harus mempunyai metode, dan dengan metode itulah fungsi dan tujuan dari esensi ilmu ini dapat tercapai dengan baik, benar dan ilmiah. Artinya ilmu ini memberi manfaat bagi umat manusia, dan ia benar karena berasal dan berakal dari kebenaran ilahiyah, serta ilmiah, karena dapat dengan mudah difahami, diaplikasikan dan dialami oleh siapa saja yang mengambil manfaat dan kebaikan dari ilmu ini.   
Adapun metode-metode yang dipakai oleh Psikoterapi Islam adalah:
1.      Metode Keyakinan (Method of Tenacity)
Meode berdasarkan suatu keyakinan yang kuat yang dimiliki oleh seorang peneliti . keyakinan itu dapat diraih melalui:
a. Ilmu Yaqin, yaitu suatu keyakinan yang diperoleh berdasarkan ilmu secara teoritis.
 b. Ainul Yaqin, Yaitu suatu keyakinan yang diperoleh melalui pengamatan mata kepala secara langsung tanpa perantara
 c. Haqqul Yaqin, yaitu suatu keyakinan yang diperoleh melalui, pengamatan dan penghayatan pengalaman (empiris) artinya si peneliti sekaligus menjadi pelaku dan peristiwa dari penenlitinya. Inilah keyakinan sesungguhnya.
d. Kamalul Yaqin, yaitu suatu keyakinan yang sempurna dan lengkap, karena ia dibangun di atas keyakinan berdasarkan hasil pengamatan dan penghayatan teoritis (Ilmu Yaqin), aplikatif („Ainul Yaqin) dan empirik (Haqqul Yaqin).

2.      Metode otoritas (method of authority)
Yaitu suatu metode dengan menggunakan otoritas yang dimiliki oleh seorang peneliti/psikoterapi, yaitu berdasarkan keahlian, kewibawaan dan pengaruh positif. Atas dasar itulah seorang psikoterapis memiliki hak penuh untuk melakukan tindakan secara tanggung jawab. Apabila seorang psikoterapis memiliki otoritas yang tinggi, maka sangat membantu dalam mempercepat proses penyembuhan terhadap suatu penyakit atau gangguan yang sedang diderita oleh seseorang.
Apabila seseorang tidak memiliki otoritas, yaitu wewenang dan keahlian untuk melakukan suatu tindakan dengan baik dan benar, maka justru tindakannya akan mendatangkan bahaya dan kesengsaraan bagi orang lain bahkan akhirnya merugikan dirinya sendiri.

3.      Metode intuisi atau ilham (method of intuition)
Adalah metode berdasarkan ilham yang bersifat wahyu yang datangnya dari Allah Ta‟ala. Metode ini sering dilakukan oleh para sufi dan orang-orang yang dekat Allah Ta‟ala dan mereka memiliki pandangan batin yang tajam (Bashirah), serta tersingkapnya alam keghaiban (mukasyafah).
Metode Tasawwuf (Method of sufism), adalah suatu metode peleburan diri dari sifat-sifat, karakter-karakter dan perbuatanperbuatan yang menyimpang dari kehendak dan tuntunan Ketuhanan. Metode ini dibagi 3, yakni:


1.      Takhalli
Metode pengosongan diri dari bekasan-bekasan kedurhakaan dan pengingkaran (dosa) terhadap Allah Ta‟ala dengan jalan melakukan pertobatan yang sesungguhnya (nasuha). Fase takhalli adalah fase pensucian mental, jiwa, akal fikiran, qalbu, dan moral (akhlak) dengan sifat-sifat yang mulia dan terpuji.

2.      Tahalli
Pengisian diri dengan ibadah dan ketaaan, aplikasi tauhid dan akhlak yang terpuji dan mulia.

3.      Tajalli
Makna tajalli dalam bahsa dapat berarti tampak, terbuka, menampakkan atau menyatakan diri. Pada tingkat inilah Allah Ta‟ala menampakkan dirinya seluas-luasnya kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Bukan hanya cahaya kebenaran hakiki, tetapi Dzat yang memiliki, cahaya itulah yang tampak. Semua hijab yang lahir, batin dan Dia telah terbuka lebar dan lebar sekali.


Minggu, 20 Desember 2020

Al-Qur’an Penyejuk Hati



Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor 2020.

Al-Qur’an adalah firman Allah yang berfungsi sebagai mukjizat (bukti kebenaran atas kenabian Muhammad) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang tertulis di dalam mushaf-mushaf, yang diriwayatkan dengan jalan mutawatir, dan yang membacanya dipandang beribadah.
Untuk mendapatkan jaminan keselamatan dan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat melalui Al-Qur’an, maka setiap umat Islam harus berusaha belajar, mengenal, membaca dan mempelajarinya.
Al-Qur’an diturunkan Allah kepada manusia untuk dibaca dan diamalkan. Ia telah terbukti menjadi pelita agung dalam memimpin manusia mengarungi perjalanan hidupnya. Tanpa membaca manusia tidak akan mengerti akan isinya dan tanpa mengamalkannya manusia tidak akan dapat merasakan kebaikan dan keutamaan petunjuk Allah dalam Al-Qur’an.
Di era globalisasi ini, banyak sekali pergeseran nilai dalam kehidupan masyarakat dikarenakan para generasi kita masih banyak yang belum mampu untuk membaca Al-Qur’an secara baik apalagi memahaminya. Oleh karena itu, sebagai orang tua harus mengusahakan sedini mungkin untuk mendidik dan membiasakan membaca Al-Quran.
Dengan membaca Al-Qur’an atau mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan hikmah serta meresapinya isinya niscaya akan mendapat petunjuk dari Allah SWT, serta dapat menenangkan hati. Itulah yang dinamakan Rahmat dari Allah SWT.
Al-Qur’an tidak hanya sebagai kitab suci, tetapi ia sekaligus merupakan pedoman hidup, sumber ketenangan jiwa serta dengan membaca Al-Qur’an dan mengetahui isinya dapat diharapkan akan mendapat Rahmat dari Allah SWT.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Isra’ ayat 82:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Artinya: Dan kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS. Al- Isra’: 82)
Sebagaimana dalam penjelasan kitab tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab bahawa thabi’un thabi’in menjadikan ayat di atas sebagai awal kelompok baru, yang berhubungan dengan uraian surah ini tentang keistimewaan al-Qur’an dan fungsinya sebagai bukti kebenaran Nabi Muhammad Saw. Ayat ini berbicara tentang al-Qur’an dengan menjelaskan fungsinya sebagai obat penawar penyakit penyakit jiwa.
Kata (شفاء) Syifa’ biasa diartikan kesembuhan atau obat, dan digunakan juga dalam arti keterbebasan dari keterkurungan atau ketiadaan aral dalam memahami manfaat.
Sufi besar, al-Hasan al-Bashri sebagaimana yang dikutip oleh Muhammad Sayyid Thanthawi dan berdasarkan riwayat Abu asy-Syaikh berkata: “Allah menjadikan al-Qur’an obat terhadap penyakit-penyakit hati dan tidak menjadikannya obat untuk penyakit jasmani.”
Thabi’un thabi’in memahami fungsi al-Qur’an sebagai obat dlam arti menghilangkan dengan bukti bukti yang dipaparkannya aneka keraguan/syubhat serta dalih yang boleh jadi hinggap di hati sementara orang. Rahmat Allah yang dilimpahkan-Nya kepada orang-orang mukmin adalah kebahgiaan hidup dalam berbagai aspeknya, seperti pengetahuan tentang ketuhanan yang benar, ahklak yang luhur, amal-amal kebajikan, kehidupan berkualitas di dunia dan akhirat, termasuk perolehan syurga dan ridha-Nya. Karena itu jika al-Qur’an disifati sebagai rahmat untuk orang-orang mukmin, maknanya adalah limpahan karunia kebajikan dan keberkahan yang disediakan Allah bagi mereka yang mengahyati dan merngamalkan nilai-nilai yang diamanatkan al-Qur’an.
Dalam sebuah penelitaian membuktikan bahwa seseorang yang membaca al-Qur’an dengan penuh kekhusyuan dan dibarengi memahami artinya timbul dalam jiwanya ketenangan, kedamaian, dan menjadikan jiwanya lebih baik dan dapat berfikir jernih.
Dalam kehidupan kaum muslimin tidak akan terlepas dari Al-Qur’an karena Al-Qur’an yang sangat lengkap dan sempurna isinya itu diyakini sebagai petunjuk yang sekaligus menjadi pedoman hidup dalam urusan duniawi dan ukhrawi sehingga tidaklah mengherankan jika kaum muslimin selalu kembali kepada Al-Qur’an setiap menghadapi permasalahan kehidupan.
Di samping itu Al-Qur’an juga berfungsi sebagai sumber ajaran Islam, serta sebagai dasar petunjuk di dalam berfikir, berbuat dan beramal sebagai khalifah di muka bumi. Untuk dapat memahami fungsi Al-Qura’an tesebut, maka setiap manusia yang beriman harus berusaha belajar, mengenal, membaca dengan fasih dan benar sesuai dengan aturan membaca (ilmu tajwidnya), makharijul huruf, dan mempelajari baik yang tersurat maupun yang terkandung di dalamnya (tersirat), menghayatinya serta mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Membaca Al-Qur’an dengan fasih dan benar, mengerti akan kandungan ayat yang dibacanya apalagi mau mengamalkannya, niscaya akan mendapat suatu kemuliaan dari Allah SWT, bahkan bila perlu dilakukan dengan termasuk sunnah Rasul. Sabda Nabi SAW :
عَنْ أَبِي ھُرَیْرَةَرَضِيَ االلهُ عَنهُ قَلَ : سَمِعْتُ رَسُولُ االلهِ صَلَّي االلهُ عَلَیهِ وَسَّلَمَ یَقُولُ : مَا اَذَنَ االلهُ لِشَئٍ اَمَّا اَذَنَ لِنَبِيْ حُسْنَ الصَوْتِ یَتَغَنَّي بِا القُرْاَنِ یَجهربهاِ (رواه متفق عليه)
 Artinya : Dari Abu Hurairah r. a berkata: saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Allah SWT tiada senang mendengar seorang yang sedang melakukan bacaan Al-Qur’an dengan suara yang keras dan merdu (HR Mutafaqun alaih). 



Jumat, 18 Desember 2020

tujuan psikoterapi



Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor 2020.

Tujuan Psikoterapi

Berikut ini diuraikan mengenai tujuan, dari psikoterapi secara khusus yang banyak peminatnya, dari dua orang tokoh yakni Ivey, et al (1987):
Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Rogerian, terpusat pada pribadi, menurut Ivey, et al (1987): untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi pertumbuhannya yang unik .
Dapat disimpulkan bahwa beberapa tujuan psikoterapi antara lain:
1) Perawatan akut (intervensi krisis dan stabilisasi)
 2) Rehabilitasi (memperbaiki gangguan perilaku berat )
 3) Pemeliharaan (pencegahan keadaan memburuk dijangka panjang)
 4) Restrukturisasi (meningkatkan perubahan yang terus menerus kepada pasien)


Rabu, 16 Desember 2020

Perkembangan Ilmu Semantik



Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor 2020.

Perkembangan semantik
Fase dalam bahasa adalah: kecerahan mengatakan fase setelah fase kapan saja pada suatu waktu. Dan evolusi adalah: perubahan bertahap yang terjadi dalam struktur dan perilaku organisme hidup, juga disebut perubahan dalam masyarakat, hubungan, sistem, atau nilai-nilai yang berlaku.
Ilmu pengetahuan adalah bahwa ilmu semantik adalah ilmu yang mempelajari makna ketika dimulai dari kata-kata, mempelajarinya dari sudut pandang leksikal, kemudian beralih ke perkembangan semantiknya, dan hukum-hukum yang mengatur perkembangan ini, kemudian menentukan apa yang Anda miliki makna dalam konteks linguistik dan sosialnya, untuk sampai pada gagasan dan isi; sesuai dengan teori ilmiah Ini mempekerjakan sesuai kebutuhan, termasuk teori konteks, teori medan semantik, teori analitik, dan lain-lain. Beberapa sarjana mungkin terkejut menggabungkan semantik sebagai cabang linguistik modern, Dan interpretasi mistis dari Al-Qur'an adalah pencarian tanda dan petunjuk dalam konteks yang, menurut pendapat mereka, tidak tunduk, menurut pendapat mereka, untuk referensi leksikal leksikal.

A. Perkembangan linguistik
Bahasa adalah sarana dan alat yang digunakan individu dan kelompok untuk berkomunikasi, dan mengekspresikan berbagai urusan kehidupan, ketika kehidupan berubah dan berkembang secara konstan. Dan perkembangan linguistik tidak terjadi secara sewenang-wenang tanpa seorang perwira atau sistem, melainkan terjadi sesuai dengan tren umum dan aturan yang mantap, seperti halnya ada yang disebut hukum vokal, jadi ada hukum makna.
Dan perkembangan linguistik terjadi dalam dua tahap:
1. Tahap perubahan: Ini adalah tahap individu, dan itu muncul dalam pidato aktual, dan itu tidak berarti bahwa itu adalah individu yang jatuh dari satu individu, itu dapat terjadi dari individu, tidak mengherankan bahwa pikiran jatuh pada pikiran, dan bahwa ide bertepatan, dan perubahan ini dapat dimaksudkan seperti dalam karya penulis Dan dewan linguistik, atau tidak diinginkan: dari penutur itu sendiri.
2. Tahap penyebaran perubahan: Ini adalah tahap kolektif, jadi penggunaan variabel ini di antara kelompok linguistik mencapai penyebaran.
Dan bahasa Arab, seperti semua bahasa hidup lainnya, tunduk pada tahun perkembangan.Di masa lalu, bahasa Arab menyerap pengalaman pertamanya menghadapi peradaban Islam.Kemudian menghadapi peradaban yang berbeda selain era berturut-turut. Bahasa Arab kontemporer mendorongnya untuk mengembangkan warna untuk memenuhi kebutuhan peradaban dan menyerap semua yang baru di dalamnya.

B. Perkembangan semantik
Perkembangan linguistik paling jelas di tingkat semantik, karena itu adalah aspek yang secara langsung menghubungkan bahasa dan kenyataan, penelitian semantik pada umumnya adalah penelitian tua, modern, karena sudah tua karena orang Arab memiliki upaya dalam bidang ini, dan kami memperhatikan dampaknya di banyak buku mereka, dan juga modern karena mungkin Ini mengembangkan pola dan metode untuk memeriksa hubungan semantik antara kata-kata.
Perkembangan signifikansi adalah fenomena umum dalam semua bahasa, dan definisi studi tentang tahapan historis bahasa dan tahapan yang dilatihnya, dan perkembangan semantik dampak Alquran pada bahasa Arab, kami merangkumnya dalam poin-poin berikut:
1. Kekudusan Al-Qur'an memiliki efek melestarikan bahasa Arab atau lainnya, yang merupakan faktor eksternal yang dapat menjaga stabilitas bahasa.
2. Perkembangan terbatas: bahasa Arab dibedakan dari bahasa lain.
3. Menghentikan perkembangan fonologis: Perubahan fonologis tidak memiliki batas dalam memprediksi sejauh mana mereka mencapai atau berdiri karena perubahan fonologis berasal sifat mereka dari kesewenang-wenangan dari sinyal linguistik.
Orang-orang kuno menangani perubahan semantik dalam dua arah:
Yang pertama: diwakili dengan sangat hati-hati untuk melestarikan bahasa, dan mereka menetapkan batas waktu dan ruang di mana penerimaan penggunaan baru yang mereka sebut Mawlada berakhir, karena ia tidak mendengar tentang orang-orang Arab yang memintanya.
Kedua: Mereka adalah musuh dari setiap perubahan yang sesuai dengan penggunaan Arab di dalam batas temporal dan spasial sebagai masalah metafora.
Manifestasi dari perkembangan semantik merangkum manifestasi utama dari perkembangan ini, yaitu:
A. Perluasan makna dan saya melihat bahwa perluasan makna, meskipun itu merupakan manifestasi dari perkembangan semantik dan cara untuk ekspansi linguistik di satu sisi.
B. Makna "spesialisasi" menyempit, karena signifikansinya bergeser dari makna linguistik umum ke makna idiomatik khusus.
C. Transfer makna, dan pembedaan ini dibuat atas dasar jenis hubungan antara dua makna: transfer makna ke hubungan yang sama antara dua makna, dan transfer makna ke hubungan yang serupa antara dua makna
Perbedaan antara transmisi makna dan perluasan makna dan penyempitannya dibatasi oleh Vendris dengan mengatakan:
"Pembesaran dan penyempitan terjadi secara tidak sadar, sedangkan transmisi makna terjadi secara sengaja, untuk maksud sastra pada umumnya.

C. Penampilan lainnya
Ada aspek lain dari perubahan makna, termasuk:
Berlebihan:
Ulmann dianggap "bertanggung jawab atas slogan-slogan yang disepuh emas dan konvensi yang menyesatkan yang dieksploitasi oleh aparat propaganda, eksploitasi terburuk, sehingga mereka tidak dikenakan untuk mengarah pada kebalikan dari apa yang dimaksudkan dari mereka," seperti dalam hal berikut:
"Sangat bahagia," "sangat cantik," kata Ulmann dari metafora.
Alasan untuk mengubah artinya
Asosiasi bahasa dengan masyarakat dan berbagai variabelnya, membuat alasan untuk mengubah makna banyak dan beragam, dan alasan-alasan ini dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis:

1. Alasan linguistik
• Kebutuhan
• Gunakan
• Kesalahan dan kesalahpahaman
• Ubah arti kata untuk mengubah sifat dari hal yang menunjukkannya
• Evolusi bunyi kata
Pintasan ke frasa

2. Alasan sosial (non-linguistik)
"Ada dua faktor yang memengaruhi bahasa: faktor masyarakat, faktor individu, dan kita dapat menganggapnya sebagai satu faktor yang merupakan faktor masyarakat, jika kita melihat bahwa masyarakat hanya memengaruhi melalui praktik individu, dan dari sini kita dapat mengenali bahwa beberapa perubahan dalam bahasa Arab adalah kebutuhan yang tidak terbatas.
Divisi ini hanya untuk tujuan studi dan penelitian, jika tidak, kedua faktor linguistik dan sosial bekerja bersama pada saat yang sama, tanpa memisahkan mereka dalam realitas linguistik.

Selasa, 15 Desember 2020

Bimbingan dan Konseling Keagamaan bagi Usia Lanjut Dalam Islam



Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor 2020.

Seseorang yang lanjut usia cenderung kaku dalam cara berfikir, kurang mampu untuk segera menyesuaikan diri dengan ide-ide baru, tampak adanya penurunan dalam kemampuan memahami informasi dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menangkap informasi dan semakin sedikit yang dapat diingat setiap ada informasi yang diterima.
Kemudia pada usia lanjut ini, dari kebanyakan mereka lebih banyak menghabiskan masa tuanya dalam kesendirian dan lebih banyak mendekatkan diri kepada kegiatan keagamaan, karena banyak pengakuan dari mereka bahwa timbul rasa takut kepada kematian dan ingat akhirat itu muncul pada usia lanjut.
Nah dari alasan inilah peran bimbingan dan konseling keagamaan sangat penting agar mereka yang lanjut usia mengingat dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT, agar kehidupan para lansia ini menjadi lebih tenang dan bahagia sebelum kematian tiba.
Dan kemudian setelah kami tela’ah bahwasanya bimbingan itu berasal dari kata guidence yang berarti pimpinan, arahan, pedoman, dan petunjuk. Dan secara definisinya dikatakan bahwa bimbingan ialah suatu proses pemberian bantuan secara terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, agara tercapai kemampuan untuk memahami dirinya, menerima dirinya, merealisasikan dirinya sesuai dengan potensi dan kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Sedangkan konseling secara etimologi adalah nasehat, anjuran, dan ajaran. Dengan demikian konseling diartikan sebagai pemberian nasehat, pemberian anjuran dan pembicaraan dengan berukaran pikiran. Secara terminologi konseling diartikan sebagai sebuah proses yang melibatkan hubungan antar pribadi antara seorang terapis dengan satu klien atau lebih, yang mana terapis menggunakan metode-metode psikologis atas dasar pengetahuan sistematik tentang kepribadian manusia dalam upaya meningkatkan kesehatan klien.
Maka bimbingan dan konseling memiliki keterkaitan satu sama lain, hal ini dikarenakan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatuan yang integral. Konseling merupakan salah satu teknik dan alat dalam pelayanan bimbingan. Pendapat lain yang mengatakan bahwa bimbingan memusatkan diri pada pencegahan munculnya masalah, sedangkan konseling memusatkan diri pada pencegahan masalah individu atau dapat dikatakan bahwa bimbingan bersifat repventif sedangkan konseling bersifat kuratif
Setalah kami amati bahwa tujuan dan fungsi bimbingan konseling dalam islam pada jurnal ini yaitu:
1.      mengahsilkan suatu perbuatan, perbaikan, kesehatan, dan kebersihan jiwa dan mental.
2.      Menghasilkan suatu perubahan, perbaikan dan kesopanan tingkah laku yang dapat memberikan manfaat baik pada diri sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan kerja, maupun lingkungan sosial dan dalam sekitarnya.
3.      Mengahsilkan kecerdasan rasa (emosi) pada individu sehingga muncul dan berkembang rasa toleransi.
4.      Menghasilkan kecerdasan spiritual pada diri individu sehingga muncul dan berkembang rasa keinginan untuk berbuat taat kepada tuhan.
5.      Mengahasilkan potensi ilahiyah, sehingga dengan potensi itu individu dapat melakukan tugasnya sebagai khalifah dengan baik dan benar.
6.      Mengembalikan pola fikir dan kebiasaan konseling yang sesuai dengan petunjuk ajaran islam (bersumber pada Al-Qur’an dan paradigma kenabian).
Kemudian ketika kami menganalisa dan mengamati jurnal ini kami pun menemukan bagaimana cara atau metode bimbingan konseling dalam islam yaitu berupa:
1.      Metode al-hikmah sebuah pedoman, penuntun dan pembimbing untuk memberi bantuan kepada individu yang sangat membutuhkan pertolongan dalam mendidik dan mengembangkan eksistensi dirinya hingga ia dapat menemukan jati diri dan citra dirinya serta dapat menyelesaikan atau mengatasi berbagai permasalahan hidup secara sendiri.
2.      Metode maudhoh hasanah, yakni teori bimbingan atau konseling dengan cara mengambil pelajaran-pelajaran dari perjalanan kehidupan para nabi dan rosul.
3.      Metode mujadalah, yaitu teori mujadalah ialah teori konseling yang terjadi dimana seorang klien sedang dalam kebimbangan.
Dari banyak nya penjelasan yang ada di dalam jurnal ini (Bimbingan dan Konseling Keagamaan Bagi Manusia Usia Lanjut Dalam Islam) kami sebagai pengamat ingin lebih memfokuskan atau mengkrucutkan saja hal hal yang terkait dalam tema jurnal ini agar tidak terlalu luas dan tidak bertele tele.
Berdasarkan teori Robert H Thoules disebutkan bahwa dengan penurunan kondisi tubuh, seperti berbagai kelemahan fungsi-fungsi biologis, termasuk kemampuan akal. Sering dengan proses ini, maka muncul trauma histori manusia sebagai mahkluk yang lemah. Trauma ini memperngaruhi sikap dan rasa ketidakberdayaan pada manusia uisa lanjut. Kondisi uzur di usia tua menyebabkan manusia usia lanjut senantiasa dibayang-bayngi oleh perasaan tidak berdaya dalam menghadapi kematian dan rasa takut akan kematian ini semakin meningkat pada masa usia tua (jalaluddin:1997). Untuk menghilangkan kecemasan batin ini maka bimbingan dan penyuluhan sangat dibutuhkan oleh manusia usia lanjut, maka prinsip dasar untuk membimbing usia lanjut adalah pendidikan. Secara psikologis usia lanjut senang kalau diberi pendidikan agama karena dengan pendidikan agama orang berusia lanjut lebih merasa tenang dibandingkan seblumnya.
Maka bimbingan dan konseling keagamaan bagi manusia usia lanjut dalam islam yang bisa kami jelaskan dengan sepemahaman kami dari jurnal ini yaitu mengajak dengan sikap lemah lembut kepada mereka berusia lanjut dan menganjurkan kepada mereka untuk melakukan yaitu:
1.      Mendidik mereka untuk Meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT.
2.      Mendidik mereka Agar lebih mendekatkan pada kegiatan-kegiatan sosial, banyak bersedekah, menyantuni anak-anak yatim (bagi usia lanjut yang memiliki harta banyak sedangkan bagi orang lanjut usia yang tidak mampu yaitu membantu kegiatan-kegiatan sosial di masyarakat).
3.      Mendidik mereka untuk Mengisi waktu purnanya memperbanyak membaca Al-Qur’an.
4.      Mendidik mereka untuk Mengikuti kegitan masjid.
5.      Mendidik mereka untuk memperbanyak amal sholeh lain nya.
Dari proses pengamatan kami, Alhamdulillah dapat kami simpulkan bahwa:
“Bimbingan dan Konseling Keagamaan bagi usia lanjut dalam Islam adalah kegiatan yang sistematis dan terencana yang memberikan pembimbingan dan konsultasi keagamaan yang lebih mendalam kepada proses pemantapan, pertaubatan dan penyempurnaan amalan agama yang dilandasi oleh kesadaran akan kehidupan setelah kematian, yakni kehidupan alam barzah dan alam akhirat. Dan cara yang digunakan dalam bimbingan dan konseling keagamaan bagi usia lanjut dalam islam adalah dengan cara Al-Hikmah, Al-Mauidhoh Hasanah, dan Al-Mujahadah.


dasar Paradigma Psikoterapi Islam



Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor 2020.

Paradigma adalah sistem atau model konseptual yang menggambarkan suatu aspek kenyataan dimana nantinya dapat ditarik kesimpulan-kesimpulan tentang bagaimana atau apa langkah-langkah yang harus diambil untuk menjalankan suatu penelitian.
Lebih lanjut, al Thabari mengatakan bahwa Psikoterapis yang bijak, komnikatif dan punya selera humor sanggup mempraktikkan metode psikoterapi dengan baik. Ia menduga beberapa sifat manusia yang bisa menggiringnya kepada gangguan jiwa antara lain; tamak, dengki, iri, benci, tidak peduli dan suka berkhayal. Pengobatan terbaik adalah melalui cara prefentif, tentunya dengan menjauhi sifat-sifat tadi, menjalani pola hidup sehat, dan menjalankan ajaran agama.
Psikoterapi Islam jelas berakar pada Al-Qur‟an dan As Sunah (normatif), empiris (pengalaman, yakni dapat dijabarkan sebagai berikut:

1.    1.   Al-Quran
 Bahwasanya konsep penyembuhan, pengobatan atau perawatan dari suatu penyakit ysng terdapat mengandung makna ntuk:
a. Menguatkan keimanan dengan Al-Qur‟an
b. Membenarkan suatu keyakinan bahwa barang siapa ditimpa suatu penyakit, maka sesungguhnya ia mampu mengobati penyakit itu kapan saja ia kehendaki dengan mencari metode atau penyembuhan
 c. Keyakinan orang yang mempercayai (beriman) kepada Rasulullah SAW., bahwa Tuhannya telah memberi petunjuk kepadanya mengenai pelajaran-pelajaran tentang rahasia-rahasia Al Qur‟an dan dari padanya terdapat rahsia pengobatan atau penyembuhan yang bermakna.
Dalam hal itu Al Qur‟an sebagai penyembuh atau dibagi mejadi dua Bagian:
Pertama, bersifat umum; seluruh isi Al Qur‟an secara maknawi, surat-surat, ayat-ayat maupun hurufnya adalah memiliki potensi penyembuhan atau obat.
Kedua, bersifat khusus yakni bukan seluruh Al-Qur‟an, melainkan hanya sebagian, bahwa ada dari ayat-ayat atau surat-surat dapat menjadi obat atau penyembuhan terhadap suatu penyakit secara spesifik bagi orang-orang yang beriman dan meyakini akan kekuasaan Allah Ta‟ala .
Menurut Hamdani (2015: 291), Kehususan-kehususan itu dapat dilihat dalam beberapa ayat yang memiliki kekhususan pula seperti:
a. Asmaul Khusna Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayakan imam bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra; “Sesungguhnya Allah Ta‟ala mempunya sembian puluh sembilan nama, seratus kurang satu, barang siapa telah menghafalnya masuk surga.”
 b. Kalimat “Basmalah” Rasulullah SAW menyatakan “Apabila seseorang ingin memulai suatu pekerjaan hendak ia memulainya dengan membaca kalimat “basmalah” agar selama melakukan pekerjaan itu senantiasa di dalam bimbingan rahmat Allah Ta‟ala
c. surat Al Fatihah Rasulullah SAW, menyatakan, pembukaan kitab (Surat AlFatihah) merupakan obat untuk semua penyakit, kecuali yang beracun dan racun kematian (HR. Baihaqi dan Jabir ra).
d. Beberapa surat yang lain Rasulullah SAW, menyatakan, barangsiapa telah membaca dua ayat yang terakhir dari surat Al Baqarah pada waktu alam hari niscaya keduanya mematikannya; membaca ayat kursi menjauhkan diri dari syetan sehingga pagi hari; membaca surat Al Kahfi dapat mendatangkan kebahagiaan.

2. As Sunah
 Ada beberapa hadis yang menyatakan bagaimana Rasulullah SAW melakukan penyembuhan secara psikoterapi diantaranya; Dari „Aisyah ra ., beliau menyatakan “Bahwasanya apabila Rasulullah SAW. Sakit, beliau membaca dua surat Al Qur‟an (Al Falaq dan An Naas) untuk dirinya dan meniupkannya. Kemudian ketika sakitnya bertambah keras, maka sayalah yang membacanya lalu saya usapkan ketempat yang sakit itu dengan menggunakan tangan beliau, demi mengharapkan berkahnya.” (HR Muslim)
3.Empirik (pengalaman) orang-orang shaleh.
Pengalaman para sahabat ketika di tengah-tengah perkampungan mereka menemukan seorang kepala suku atau suatu kaum telah tersengat binatang berbisa. Salah seorang dari sahabat Nabi Muhammad SAW mengobati dan menghilangkan bisa itu dengan membaca surat Al fatihah.
Sebagaimana beberapa tahun penulis (KH. Hamdan Bakhran) telah melakukan terapi dengan pendekatan spiritual yaitu sejak tahun 1985 hingga hari ini. Penulis mengkaji makna-makna yang tersurat maupun tersirat dari beberapa surat maupun ayat al Qur‟an yang mengandung energi atau potensial penyembuh, sebagaimana yang disebutkan dalam Hadist-hadis Nabi .
 Adapun Klien yang merasa pasif dan tidak dapat melakukan terapi sendiri maka penulis lebih aktif dan lebih berinisiatif membantu mereka agar dapat keluar dari beban-beban yang mengganggu kejiwaan mereka. Sistematika yang dimaksud adalah sebagaimana berikut:
 a. Penulis (Hamdan Bakhran Adz-Dzakiey) melakukan shalat sunat hajat dua (2) rakaat atau empat (4) rakaat sebagai wadah permohonan kepada Allah
 b. Setelah shalat memohon pengampunan kepada Allah untuk diri penulis sendiri maupun untuk klien
 c. Penulis membaca shalawa Nabi, karena shalawat itu berfungsi sebagai pengantar dan pembuka untuk terkabulnya do‟a.
 d. Membaca Al Fatihah, ayat kursi, al ikhlas, al falaq, an naas sebagaimana dalil yang diatas, kemudian setelah membaca itu penulis (KH Hamdan Bakhran) berdo‟a untuk kesembuhan si klien
e. Setelah itu beliau meniupkan energi dari do‟a-do‟a yang telah beliau lakukan kedalam air sebagai sarana bagi klien dan agar dapat di minum sambil beri‟tikad bahwa Allah jualah Yang Maha Penyembuh.
 f. Klien yang aktif atau sehat dapat melakukan sendiri sebagaimana yang beliau lakukan. Dan Alkhamdulillah cara ini berulang kali beliau lakukan dan banyak memberikan manfaat dan kesembuhan bagi mereka yang membutuhkan pertolongan.

Sabtu, 12 Desember 2020

Hakikat Manusia



Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor 2020.

Manusia
Manusia Sebagai Makhluk Sosial – Pengertian, Individu Dan Contoh – Manusia atau orang dapat diartikan berbeda dalam hal istilah biologi, spiritual, dan budaya, atau campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens, sebuah spesies primata dari mamalia yang mencakup otak sangat mampu. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan Tuhan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain.

Hakikat Manusia

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Manusia didudukkan sesuai dengan kodrat, harkat, martabat, hak, dan kewajibannya.
  • Kodrat manusia
Kodrat manusia adalah keseluruhan sifat-sifat sah, kemampuan atau bakat­bakat alami yang melekat pada manusia, yaitu manusia sebagai makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Ditinjau dan kodratnya, kedudukan manusia secara pribadi antara lain sesuai dengan sifat-sifat aslinya, kemampuannya, dan bakat-bakat alami yang melekat padanya.
  • Harkat manusia
Harkat manusia artinya derajat manusia. Harkat manusia adalah nilai manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
  • Martabat manusia
Martabat manusia artinya harga diri manusia. Martabat manusia adalah kedudukan manusia yang terhormat sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang berakal budi sehingga manusia mendapat tempat yang tinggi dibanding makhluk yang lain. Ditinjau dan martabatnya, kedudukan manusia itu lebih tinggi dan lebth terhormat dibandingican dengan makhluk­ lainnya.
  • Hak asasi manusia
Hak asasi manusia adalah hak dasar yang dimihiki oleh setiap manusia sebagai anugerah dan Tuhan Yang Maha Esa, seperti hak hidup, hak milik, dan hak kebebasan atau kemerdekaan.
  • Kewajiban manusia
Kewajiban manusia artinya sesuatu yang harus dikerjakan oleh manusia. Kewajiban manusia adalah keharusan untuk melakukan sesuatu sebagai konsekwensi manusia sebagai makhluk individu yang mempunyai hak-­hak asasi. Ditinjau dan kewajibannya, manusia berkedudukan sama, artinya tidak ada diskriminasi dalam melaksanakan kewajiban hidupnya sehari-hari.


Jumat, 11 Desember 2020

Istilah Manusia dalam Al-Qur’an



Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor 2020.

Ternyata teman-teman istilah Manusia dalam Al-Qur’an bukan hanya satu lo, apa sajakah itu...?, izinkan kami untuk memaparkan Istilah-istilah Manusia dalam Al-Qur’an, semoga menambah wawasan untuk kita semua, aamiin.
Ini dia temen-temen:

1. Al-Basyar Dalam al-Qur’an, kata al-basyar, baik dalam bentuk mufrad atau tasniyah berulang sebanyak 37 kali dan tersebar dalam 26 surat. Satu kali dalam bentuk tasniyah dan 36 dalam bentuk mufrad. 12 Dari 37 kali kata al-basyar berulang dalam al-Qur’an, hanya 4 kali disebutkan dalam surah-surah Madaniyah, yaitu pada Q.S. Ali ‘Imran/3: 47, 79, Q.S. al-Maidah/5: 18 dan Q.S. al-Tagabun/64: 6. Sedangkan 33 kali disebutkan dalam surah-surah Madaniyah.

Secara etimologi al-basyar yang terdiri dari ba-sya-ra bermakna sesuatu yang tampak dengan baik dan indah.13 Menurut M. Quraish Shihab, kata basyar terambil dari akar kata yang pada umumnya berarti menampakkan sesuatu dengan baik dan indah. Dari kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Manusia dinamakan basyarah karena kulitnya tampak jelas dan berbeda di banding dengan kulit hewan lainnya.14 Penamaan al-basyar dengan kulit menunjukkan makna bahwa secara biologis yang mendominasi manusia adalah pada kulitnya, dibanding rambut atau bulunya.15 Pada aspek ini, terlihat perbedaan umum biologis manusia dengan hewan yang lebih didominasi bulu atau rambut. Dengan demikian, kata basyar dalam al-Qur’an secara khusus merujuk kepada tubuh dan lahiriah manusia.

Al-Basyar, juga dapat diartikan mulasamah, yaitu persentuhan kulit antara laki-laki dengan perempuan.16 Makna etimologi dapat dipahami adalah bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki segala sifat kemanusiaan dan keterbatasan, seperti makan, minum, seks, keamanan, kebahagiaan, dan lain sebagainya. Penunjukan kata al-basyar ditujukan Allah kepada seluruh manusia tanpa terkecuali.

2. Al-Insan Kata al-insan dalam al-Qur’an digunakan sebanyak 61 kali.20 Secara etimologi, ula`ma berbeda pendapat tentang asal katanya. Sebagian mengatakan bahwa al-insan berasal dari akar nawasa yang berarti bergerak, ada juga yang mengatakan berasal dari kata anasa yang berarti jinak, dan ada juga yang berkata dari kata nasiya yang berarti lupa.

Penamaan manusia dengan kata al-insan yang berasal dari kata al-uns, dinyatakan dalam al Qur’an sebanyak 73 kali dan tersebar dalam 43 surat.21 Secara etimologi, al-insan dapat diartikan
harmonis, lemah lembut, tampak, atau pelupa. Menurut M. Quraish Shihab, manusia dalam al-Qur’an disebut dengan al-insan yang terambil dari kata uns yang berarti jinak, harmonis dan tampak. Pendapat ini jika ditinjau dari sudut pandang al-Qur’an lebih tepat dari yang berpendapat bahwa ia terambil dari kata nasiya (yang berarti lupa), atau nasa-yansu (yang berarti bergoncang). Kata insan digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan kepada manusia dengan seluruh totalitas, jiwa dan raga. Manusia berbeda antara seseorang dengan yang lain, akibat perbedaan fisik, mental dan kecerdasannya.22

Dengan kata lain, al-insan digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan totalitas manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani. Harmonisasi kedua aspek tersebut dengan berbagai potensi yang dimilikinya mengantarkan manusia sebagai makhluk Allah yang unik dan istimewa lagi.

3. Al-Ins Kata al-ins dalam al-Qur’an digunakan sebanyak 18 kali dan selalu ditandemkan dengan kata al-jinn atau jann. 29 Jika merujuk penggunaan al-Qur’an terhadap kata al-ins maka yang dimaksudkan adalah jenis makhluk sehingga diperhadapkan dengan jenis Jin. Dalam Q.S. al-An‘am/6: 130: Terjemahnya: Hai golongan jin dan manusia, Apakah belum datang kepadamu Rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? mereka berkata: "Kami menjadi saksi atas diri Kami sendiri", kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.30

Secara etimologi, kata al-ins berasal dari kata a-na-sa yang berarti sesuatu yang tampak dan setiap sesuatu yang menyalahi cara liar.31 Namun, jika diperhatikan bahwa al-Qur’an senantiasa menandemkan dengan kata al-jin yang berarti tertutup,32 maka makna yang paling ideal untuk makna al-ins adalah sesuatu yang tampak.

4. Al-Nas Kata al-nas dinyatakan dalam al-Qur’an sebanyak 240 kali dan tersebar dalam 53 surat.34 Kata al-nas menunjukkan pada eksistensi manusia sebagai makhluk hidup dan sosial. Secara keseluruhan, tanpa melihat status keimanan atau kekafirannya.35 Kata al-nas dipakai al-Qur’an untuk menyatakan adanya sekelompok orang atau masyarakat yang mempunyai berbagai kegiatan (aktivitas) untuk mengembangkan kehidupannya.36

Dalam menunjuk makna manusia, kata al-nas lebih bersifat umum bila dibandingkan dengan kata al-insan. Keumumannya tersebut dapat dilihat dari penekanan makna yang dikandungnya. Kata al-nas menunjuk manusia sebagai makhluk sosial dan kebanyakan digambarkan sebagai kelompok manusia tertentu yang sering melakukan mafsadah dan pengisi neraka bersama iblis.

5. Bani Adam Secara harfiah, lafal bani merupakan bentul flural dari lafal ibn, sedangkan asal katanya adalah banawa yang bermakna sesuatu yang keluar dari sesuatu yang lain, seperti anak manusia atau anak lain.40 Bani bisa juga dikaitkan dengan makna membangun. Oleh karena itu, ibn bisa bermakna bangunan karena ia merupakan bangunan bapak dan menjadi penyebab keberadaannya.41 Dari kedua makna tersebut, bani dapat diartikan sebagai makhluk yang lahir dari sperma seorang yang sejenis dengannya.42 Jika dikaitkan dengan lafal Adam, maka yang dimaksud dengan bani Adam adalah anak-anak yang dilahirkan dari Adam dan dari anak-anak Adam dan seterusnya, sehingga dapat dikatakan bani Adam adalah keturunan Adam as. Dalam al-Qur’an, kata bani Adam berulang sebanyak 7 kali 7 kali, sekali dengan meggunakan ibnai Adam (dalam bentuk tasniyah/dua) dan sekali dengan menggunakan zurriyah.43 Penggunaan kata ibnai Adam dalam al-Qur’an ditujukan langsung terhadap anak kandung Adam as. yang diabadikan dalam Q.S. al-Maidah/5: 27-31 yang bercerita tentang dua saudara kembar Habil dan Qabil.

kitab tafsir al-Qurtuby

Contoh kitab Tafsir dan MetodologiPenulisannya Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, ...