Jumat, 11 Desember 2020

Istilah Manusia dalam Al-Qur’an



Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor 2020.

Ternyata teman-teman istilah Manusia dalam Al-Qur’an bukan hanya satu lo, apa sajakah itu...?, izinkan kami untuk memaparkan Istilah-istilah Manusia dalam Al-Qur’an, semoga menambah wawasan untuk kita semua, aamiin.
Ini dia temen-temen:

1. Al-Basyar Dalam al-Qur’an, kata al-basyar, baik dalam bentuk mufrad atau tasniyah berulang sebanyak 37 kali dan tersebar dalam 26 surat. Satu kali dalam bentuk tasniyah dan 36 dalam bentuk mufrad. 12 Dari 37 kali kata al-basyar berulang dalam al-Qur’an, hanya 4 kali disebutkan dalam surah-surah Madaniyah, yaitu pada Q.S. Ali ‘Imran/3: 47, 79, Q.S. al-Maidah/5: 18 dan Q.S. al-Tagabun/64: 6. Sedangkan 33 kali disebutkan dalam surah-surah Madaniyah.

Secara etimologi al-basyar yang terdiri dari ba-sya-ra bermakna sesuatu yang tampak dengan baik dan indah.13 Menurut M. Quraish Shihab, kata basyar terambil dari akar kata yang pada umumnya berarti menampakkan sesuatu dengan baik dan indah. Dari kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Manusia dinamakan basyarah karena kulitnya tampak jelas dan berbeda di banding dengan kulit hewan lainnya.14 Penamaan al-basyar dengan kulit menunjukkan makna bahwa secara biologis yang mendominasi manusia adalah pada kulitnya, dibanding rambut atau bulunya.15 Pada aspek ini, terlihat perbedaan umum biologis manusia dengan hewan yang lebih didominasi bulu atau rambut. Dengan demikian, kata basyar dalam al-Qur’an secara khusus merujuk kepada tubuh dan lahiriah manusia.

Al-Basyar, juga dapat diartikan mulasamah, yaitu persentuhan kulit antara laki-laki dengan perempuan.16 Makna etimologi dapat dipahami adalah bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki segala sifat kemanusiaan dan keterbatasan, seperti makan, minum, seks, keamanan, kebahagiaan, dan lain sebagainya. Penunjukan kata al-basyar ditujukan Allah kepada seluruh manusia tanpa terkecuali.

2. Al-Insan Kata al-insan dalam al-Qur’an digunakan sebanyak 61 kali.20 Secara etimologi, ula`ma berbeda pendapat tentang asal katanya. Sebagian mengatakan bahwa al-insan berasal dari akar nawasa yang berarti bergerak, ada juga yang mengatakan berasal dari kata anasa yang berarti jinak, dan ada juga yang berkata dari kata nasiya yang berarti lupa.

Penamaan manusia dengan kata al-insan yang berasal dari kata al-uns, dinyatakan dalam al Qur’an sebanyak 73 kali dan tersebar dalam 43 surat.21 Secara etimologi, al-insan dapat diartikan
harmonis, lemah lembut, tampak, atau pelupa. Menurut M. Quraish Shihab, manusia dalam al-Qur’an disebut dengan al-insan yang terambil dari kata uns yang berarti jinak, harmonis dan tampak. Pendapat ini jika ditinjau dari sudut pandang al-Qur’an lebih tepat dari yang berpendapat bahwa ia terambil dari kata nasiya (yang berarti lupa), atau nasa-yansu (yang berarti bergoncang). Kata insan digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan kepada manusia dengan seluruh totalitas, jiwa dan raga. Manusia berbeda antara seseorang dengan yang lain, akibat perbedaan fisik, mental dan kecerdasannya.22

Dengan kata lain, al-insan digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan totalitas manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani. Harmonisasi kedua aspek tersebut dengan berbagai potensi yang dimilikinya mengantarkan manusia sebagai makhluk Allah yang unik dan istimewa lagi.

3. Al-Ins Kata al-ins dalam al-Qur’an digunakan sebanyak 18 kali dan selalu ditandemkan dengan kata al-jinn atau jann. 29 Jika merujuk penggunaan al-Qur’an terhadap kata al-ins maka yang dimaksudkan adalah jenis makhluk sehingga diperhadapkan dengan jenis Jin. Dalam Q.S. al-An‘am/6: 130: Terjemahnya: Hai golongan jin dan manusia, Apakah belum datang kepadamu Rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? mereka berkata: "Kami menjadi saksi atas diri Kami sendiri", kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.30

Secara etimologi, kata al-ins berasal dari kata a-na-sa yang berarti sesuatu yang tampak dan setiap sesuatu yang menyalahi cara liar.31 Namun, jika diperhatikan bahwa al-Qur’an senantiasa menandemkan dengan kata al-jin yang berarti tertutup,32 maka makna yang paling ideal untuk makna al-ins adalah sesuatu yang tampak.

4. Al-Nas Kata al-nas dinyatakan dalam al-Qur’an sebanyak 240 kali dan tersebar dalam 53 surat.34 Kata al-nas menunjukkan pada eksistensi manusia sebagai makhluk hidup dan sosial. Secara keseluruhan, tanpa melihat status keimanan atau kekafirannya.35 Kata al-nas dipakai al-Qur’an untuk menyatakan adanya sekelompok orang atau masyarakat yang mempunyai berbagai kegiatan (aktivitas) untuk mengembangkan kehidupannya.36

Dalam menunjuk makna manusia, kata al-nas lebih bersifat umum bila dibandingkan dengan kata al-insan. Keumumannya tersebut dapat dilihat dari penekanan makna yang dikandungnya. Kata al-nas menunjuk manusia sebagai makhluk sosial dan kebanyakan digambarkan sebagai kelompok manusia tertentu yang sering melakukan mafsadah dan pengisi neraka bersama iblis.

5. Bani Adam Secara harfiah, lafal bani merupakan bentul flural dari lafal ibn, sedangkan asal katanya adalah banawa yang bermakna sesuatu yang keluar dari sesuatu yang lain, seperti anak manusia atau anak lain.40 Bani bisa juga dikaitkan dengan makna membangun. Oleh karena itu, ibn bisa bermakna bangunan karena ia merupakan bangunan bapak dan menjadi penyebab keberadaannya.41 Dari kedua makna tersebut, bani dapat diartikan sebagai makhluk yang lahir dari sperma seorang yang sejenis dengannya.42 Jika dikaitkan dengan lafal Adam, maka yang dimaksud dengan bani Adam adalah anak-anak yang dilahirkan dari Adam dan dari anak-anak Adam dan seterusnya, sehingga dapat dikatakan bani Adam adalah keturunan Adam as. Dalam al-Qur’an, kata bani Adam berulang sebanyak 7 kali 7 kali, sekali dengan meggunakan ibnai Adam (dalam bentuk tasniyah/dua) dan sekali dengan menggunakan zurriyah.43 Penggunaan kata ibnai Adam dalam al-Qur’an ditujukan langsung terhadap anak kandung Adam as. yang diabadikan dalam Q.S. al-Maidah/5: 27-31 yang bercerita tentang dua saudara kembar Habil dan Qabil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kitab tafsir al-Qurtuby

Contoh kitab Tafsir dan MetodologiPenulisannya Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, ...