Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu
Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor 2020.
Ternyata teman-teman istilah Manusia dalam Al-Qur’an
bukan hanya satu lo, apa sajakah itu...?, izinkan kami untuk memaparkan Istilah-istilah
Manusia dalam Al-Qur’an, semoga menambah wawasan untuk kita semua, aamiin.
Ini dia temen-temen:
1. Al-Basyar
Dalam al-Qur’an, kata al-basyar, baik dalam bentuk mufrad atau tasniyah
berulang sebanyak
37 kali dan tersebar dalam 26 surat. Satu kali dalam bentuk tasniyah dan 36
dalam bentuk
mufrad. 12 Dari 37 kali kata al-basyar berulang dalam al-Qur’an, hanya 4 kali
disebutkan dalam surah-surah Madaniyah, yaitu pada Q.S. Ali ‘Imran/3: 47, 79,
Q.S. al-Maidah/5: 18 dan Q.S. al-Tagabun/64: 6. Sedangkan 33 kali disebutkan dalam
surah-surah Madaniyah.
Secara etimologi al-basyar yang terdiri dari ba-sya-ra
bermakna sesuatu yang tampak dengan baik dan indah.13 Menurut M. Quraish
Shihab, kata basyar terambil dari akar kata yang pada umumnya berarti
menampakkan sesuatu dengan baik dan indah. Dari
kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Manusia dinamakan
basyarah karena kulitnya tampak jelas dan berbeda di banding dengan kulit hewan
lainnya.14 Penamaan al-basyar dengan kulit menunjukkan makna bahwa secara
biologis yang mendominasi manusia adalah pada kulitnya, dibanding rambut atau
bulunya.15 Pada aspek ini, terlihat perbedaan umum biologis manusia dengan
hewan yang lebih didominasi bulu atau rambut. Dengan demikian, kata basyar
dalam al-Qur’an secara khusus merujuk kepada tubuh dan lahiriah manusia.
Al-Basyar, juga dapat diartikan mulasamah, yaitu
persentuhan kulit antara laki-laki dengan perempuan.16 Makna etimologi dapat
dipahami adalah bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki segala sifat
kemanusiaan dan keterbatasan, seperti makan, minum, seks, keamanan,
kebahagiaan, dan lain sebagainya. Penunjukan
kata al-basyar ditujukan Allah kepada seluruh manusia tanpa terkecuali.
2. Al-Insan
Kata al-insan dalam al-Qur’an digunakan sebanyak 61 kali.20 Secara etimologi,
ula`ma berbeda pendapat tentang asal katanya. Sebagian mengatakan bahwa
al-insan berasal dari akar nawasa yang berarti bergerak, ada juga yang
mengatakan berasal dari kata anasa yang berarti jinak, dan ada juga yang
berkata dari kata nasiya yang berarti lupa.
Penamaan
manusia dengan kata al-insan yang berasal dari kata al-uns, dinyatakan dalam al Qur’an
sebanyak 73 kali dan tersebar dalam 43 surat.21 Secara etimologi, al-insan
dapat diartikan
harmonis,
lemah lembut, tampak, atau pelupa. Menurut M. Quraish Shihab, manusia dalam
al-Qur’an disebut dengan al-insan yang terambil dari kata uns yang berarti
jinak, harmonis dan tampak. Pendapat ini jika ditinjau dari sudut pandang
al-Qur’an lebih tepat dari yang berpendapat bahwa ia terambil dari kata nasiya
(yang berarti lupa), atau nasa-yansu (yang berarti bergoncang). Kata insan
digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan kepada manusia dengan seluruh totalitas,
jiwa dan raga. Manusia berbeda antara seseorang dengan yang lain, akibat
perbedaan fisik, mental dan kecerdasannya.22
Dengan
kata lain, al-insan digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan totalitas manusia
sebagai makhluk jasmani dan rohani. Harmonisasi kedua aspek tersebut dengan
berbagai potensi yang dimilikinya mengantarkan manusia sebagai makhluk Allah
yang unik dan istimewa lagi.
3. Al-Ins
Kata al-ins dalam al-Qur’an digunakan sebanyak 18 kali dan selalu ditandemkan
dengan kata al-jinn atau jann. 29 Jika merujuk penggunaan al-Qur’an terhadap
kata al-ins maka yang dimaksudkan adalah jenis
makhluk sehingga diperhadapkan dengan jenis Jin. Dalam Q.S. al-An‘am/6: 130: Terjemahnya: Hai golongan jin dan manusia, Apakah belum
datang kepadamu Rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan
kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu
dengan hari ini? mereka berkata: "Kami menjadi saksi atas diri Kami
sendiri", kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi
atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.30
Secara etimologi, kata al-ins berasal dari kata a-na-sa
yang berarti sesuatu yang tampak dan setiap sesuatu yang menyalahi cara liar.31
Namun, jika diperhatikan bahwa al-Qur’an senantiasa menandemkan dengan kata
al-jin yang berarti tertutup,32 maka makna yang paling ideal untuk makna al-ins
adalah sesuatu yang tampak.
4. Al-Nas
Kata al-nas dinyatakan dalam al-Qur’an sebanyak 240 kali dan tersebar dalam 53
surat.34 Kata al-nas menunjukkan pada eksistensi manusia sebagai makhluk hidup
dan sosial. Secara keseluruhan, tanpa melihat status keimanan atau
kekafirannya.35 Kata al-nas dipakai al-Qur’an untuk menyatakan adanya
sekelompok orang atau masyarakat yang mempunyai berbagai kegiatan (aktivitas)
untuk mengembangkan kehidupannya.36
Dalam
menunjuk makna manusia, kata al-nas lebih bersifat umum bila dibandingkan
dengan kata al-insan. Keumumannya tersebut dapat dilihat dari penekanan makna
yang dikandungnya. Kata al-nas menunjuk manusia sebagai makhluk sosial dan
kebanyakan digambarkan sebagai kelompok manusia tertentu yang sering melakukan
mafsadah dan pengisi neraka bersama iblis.
5. Bani Adam Secara harfiah, lafal bani merupakan
bentul flural dari lafal ibn, sedangkan asal katanya adalah banawa yang
bermakna sesuatu yang keluar dari sesuatu yang lain, seperti anak manusia atau
anak lain.40 Bani bisa juga dikaitkan dengan makna membangun. Oleh karena itu,
ibn bisa bermakna bangunan karena ia merupakan bangunan bapak dan menjadi
penyebab keberadaannya.41 Dari kedua makna tersebut, bani dapat diartikan
sebagai makhluk yang lahir dari sperma seorang yang sejenis dengannya.42 Jika
dikaitkan dengan lafal Adam, maka yang dimaksud dengan bani Adam adalah
anak-anak yang dilahirkan dari Adam dan dari anak-anak Adam dan seterusnya,
sehingga dapat dikatakan bani Adam adalah keturunan Adam as. Dalam al-Qur’an,
kata bani Adam berulang sebanyak 7 kali 7 kali, sekali dengan meggunakan ibnai
Adam (dalam bentuk tasniyah/dua) dan sekali dengan menggunakan zurriyah.43
Penggunaan kata ibnai Adam dalam al-Qur’an ditujukan langsung terhadap anak
kandung Adam as. yang diabadikan dalam Q.S. al-Maidah/5: 27-31 yang bercerita
tentang dua saudara kembar Habil dan Qabil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar