Selasa, 15 Desember 2020

Bimbingan dan Konseling Keagamaan bagi Usia Lanjut Dalam Islam



Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor 2020.

Seseorang yang lanjut usia cenderung kaku dalam cara berfikir, kurang mampu untuk segera menyesuaikan diri dengan ide-ide baru, tampak adanya penurunan dalam kemampuan memahami informasi dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menangkap informasi dan semakin sedikit yang dapat diingat setiap ada informasi yang diterima.
Kemudia pada usia lanjut ini, dari kebanyakan mereka lebih banyak menghabiskan masa tuanya dalam kesendirian dan lebih banyak mendekatkan diri kepada kegiatan keagamaan, karena banyak pengakuan dari mereka bahwa timbul rasa takut kepada kematian dan ingat akhirat itu muncul pada usia lanjut.
Nah dari alasan inilah peran bimbingan dan konseling keagamaan sangat penting agar mereka yang lanjut usia mengingat dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT, agar kehidupan para lansia ini menjadi lebih tenang dan bahagia sebelum kematian tiba.
Dan kemudian setelah kami tela’ah bahwasanya bimbingan itu berasal dari kata guidence yang berarti pimpinan, arahan, pedoman, dan petunjuk. Dan secara definisinya dikatakan bahwa bimbingan ialah suatu proses pemberian bantuan secara terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, agara tercapai kemampuan untuk memahami dirinya, menerima dirinya, merealisasikan dirinya sesuai dengan potensi dan kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Sedangkan konseling secara etimologi adalah nasehat, anjuran, dan ajaran. Dengan demikian konseling diartikan sebagai pemberian nasehat, pemberian anjuran dan pembicaraan dengan berukaran pikiran. Secara terminologi konseling diartikan sebagai sebuah proses yang melibatkan hubungan antar pribadi antara seorang terapis dengan satu klien atau lebih, yang mana terapis menggunakan metode-metode psikologis atas dasar pengetahuan sistematik tentang kepribadian manusia dalam upaya meningkatkan kesehatan klien.
Maka bimbingan dan konseling memiliki keterkaitan satu sama lain, hal ini dikarenakan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatuan yang integral. Konseling merupakan salah satu teknik dan alat dalam pelayanan bimbingan. Pendapat lain yang mengatakan bahwa bimbingan memusatkan diri pada pencegahan munculnya masalah, sedangkan konseling memusatkan diri pada pencegahan masalah individu atau dapat dikatakan bahwa bimbingan bersifat repventif sedangkan konseling bersifat kuratif
Setalah kami amati bahwa tujuan dan fungsi bimbingan konseling dalam islam pada jurnal ini yaitu:
1.      mengahsilkan suatu perbuatan, perbaikan, kesehatan, dan kebersihan jiwa dan mental.
2.      Menghasilkan suatu perubahan, perbaikan dan kesopanan tingkah laku yang dapat memberikan manfaat baik pada diri sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan kerja, maupun lingkungan sosial dan dalam sekitarnya.
3.      Mengahsilkan kecerdasan rasa (emosi) pada individu sehingga muncul dan berkembang rasa toleransi.
4.      Menghasilkan kecerdasan spiritual pada diri individu sehingga muncul dan berkembang rasa keinginan untuk berbuat taat kepada tuhan.
5.      Mengahasilkan potensi ilahiyah, sehingga dengan potensi itu individu dapat melakukan tugasnya sebagai khalifah dengan baik dan benar.
6.      Mengembalikan pola fikir dan kebiasaan konseling yang sesuai dengan petunjuk ajaran islam (bersumber pada Al-Qur’an dan paradigma kenabian).
Kemudian ketika kami menganalisa dan mengamati jurnal ini kami pun menemukan bagaimana cara atau metode bimbingan konseling dalam islam yaitu berupa:
1.      Metode al-hikmah sebuah pedoman, penuntun dan pembimbing untuk memberi bantuan kepada individu yang sangat membutuhkan pertolongan dalam mendidik dan mengembangkan eksistensi dirinya hingga ia dapat menemukan jati diri dan citra dirinya serta dapat menyelesaikan atau mengatasi berbagai permasalahan hidup secara sendiri.
2.      Metode maudhoh hasanah, yakni teori bimbingan atau konseling dengan cara mengambil pelajaran-pelajaran dari perjalanan kehidupan para nabi dan rosul.
3.      Metode mujadalah, yaitu teori mujadalah ialah teori konseling yang terjadi dimana seorang klien sedang dalam kebimbangan.
Dari banyak nya penjelasan yang ada di dalam jurnal ini (Bimbingan dan Konseling Keagamaan Bagi Manusia Usia Lanjut Dalam Islam) kami sebagai pengamat ingin lebih memfokuskan atau mengkrucutkan saja hal hal yang terkait dalam tema jurnal ini agar tidak terlalu luas dan tidak bertele tele.
Berdasarkan teori Robert H Thoules disebutkan bahwa dengan penurunan kondisi tubuh, seperti berbagai kelemahan fungsi-fungsi biologis, termasuk kemampuan akal. Sering dengan proses ini, maka muncul trauma histori manusia sebagai mahkluk yang lemah. Trauma ini memperngaruhi sikap dan rasa ketidakberdayaan pada manusia uisa lanjut. Kondisi uzur di usia tua menyebabkan manusia usia lanjut senantiasa dibayang-bayngi oleh perasaan tidak berdaya dalam menghadapi kematian dan rasa takut akan kematian ini semakin meningkat pada masa usia tua (jalaluddin:1997). Untuk menghilangkan kecemasan batin ini maka bimbingan dan penyuluhan sangat dibutuhkan oleh manusia usia lanjut, maka prinsip dasar untuk membimbing usia lanjut adalah pendidikan. Secara psikologis usia lanjut senang kalau diberi pendidikan agama karena dengan pendidikan agama orang berusia lanjut lebih merasa tenang dibandingkan seblumnya.
Maka bimbingan dan konseling keagamaan bagi manusia usia lanjut dalam islam yang bisa kami jelaskan dengan sepemahaman kami dari jurnal ini yaitu mengajak dengan sikap lemah lembut kepada mereka berusia lanjut dan menganjurkan kepada mereka untuk melakukan yaitu:
1.      Mendidik mereka untuk Meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT.
2.      Mendidik mereka Agar lebih mendekatkan pada kegiatan-kegiatan sosial, banyak bersedekah, menyantuni anak-anak yatim (bagi usia lanjut yang memiliki harta banyak sedangkan bagi orang lanjut usia yang tidak mampu yaitu membantu kegiatan-kegiatan sosial di masyarakat).
3.      Mendidik mereka untuk Mengisi waktu purnanya memperbanyak membaca Al-Qur’an.
4.      Mendidik mereka untuk Mengikuti kegitan masjid.
5.      Mendidik mereka untuk memperbanyak amal sholeh lain nya.
Dari proses pengamatan kami, Alhamdulillah dapat kami simpulkan bahwa:
“Bimbingan dan Konseling Keagamaan bagi usia lanjut dalam Islam adalah kegiatan yang sistematis dan terencana yang memberikan pembimbingan dan konsultasi keagamaan yang lebih mendalam kepada proses pemantapan, pertaubatan dan penyempurnaan amalan agama yang dilandasi oleh kesadaran akan kehidupan setelah kematian, yakni kehidupan alam barzah dan alam akhirat. Dan cara yang digunakan dalam bimbingan dan konseling keagamaan bagi usia lanjut dalam islam adalah dengan cara Al-Hikmah, Al-Mauidhoh Hasanah, dan Al-Mujahadah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kitab tafsir al-Qurtuby

Contoh kitab Tafsir dan MetodologiPenulisannya Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, ...