Senin, 30 November 2020
Metode Pembelajaran Al-Qur’an pada saat ini
Minggu, 29 November 2020
Meraih kejayaan dengan kesempurnaan iman
Meraih kejayaan dengan kesempurnaan iman
Malik bennabi, salah seorang intelektual
muslim asal Aljazair, berpendapat bahwa masyarakat Islam hari ini adalah
masyarakat “pasca peradaban” (marhalah maa ba’da al-hadharah). Artinya,
masyarakat yang telah melampaui fase peradaban yang sudah jumud (Stagnan)
pemikirannya dan bergerak ke belakang; tidak lagi produktif karena tidak
menghasilkan karya-karya peradaban dan mengadakan perubahan-perubahan yang
fundamental. Malik Bennabi, pemikir yang kerap disebut Ibnu Khaldun kedua ini
bahkan menilai bahwa umat Islam sekarang adalah umat yang “al-qabiliyyah lil
isti’ma” (masyarakat yang layak untuk dijajah).
Senada dengan ungkapan di atas, Fethullah
Gulen, aktivis perdamaian asal Turki yang sangat berpengaruh, mengatakan bahwa
krisis yang dialami oleh umat Islam sekarang adalah krisis yang multidimensi
dan menyeluruh. mulai dari aqidah, akhlak, pola pikir, pendidikan,
produktivitas, tradisi, budaya, bahkan hingga ranah sosial-politik.
mereka Terbelenggu Dalam kebodohan, dekadensi
moral, klenik, dan hedonisme yang hanya ingin memuaskan syahwat jasmani. mereka
sedang terbenam dalam kegelapan yang parah. mereka bingung Bagai anak ayam
kehilangan induk, atau laksana biji-biji tasbih yang lepas dari tali
perangkatnya. saat ini mereka sedang tertindas di bawah kaki kekuatan yang tak
kasat mata. mereka tertekan dan terguncang, lemah tak berdaya, remuk redam,
centang-perenang, dikoyak kuasa jahat, mereka semua kebingungan.
Penyebab keterpurukan
kondisi seperti yang digambarkan di atas,
membuat Sebagai sebagian kaum muslimin merasa minder dan tidak percaya diri
dengan identitas keislamannya (inferiority complex). di saat yang bersamaan,
mereka lebih kagum dan terpesona dengan segala sesuatu yang berasal dari barat.
realita yang sedemikian parah itu juga menjadi bahan sindiran oleh para
orientalis. sebagaimana kisah yang dialami oleh Syekh mutawalli as sya'rawi
saat berkunjung ke San Fransisco-Amerika. beliau ditanya oleh seorang
orientalis, “Apakah ayat-ayat di Alquran seluruhnya benar?”, sang Syeikh
menjawab dengan tegas, “iya, Saya yakin benar.” orientalis itu bertanya, “lagi
lalu Mengapa Allah jadikan orang-orang kafir berkuasa atas kalian, padahal
dalam al-qur'an disebut bahwa, “dan Allah Ah sekali-kali tidak memberi jalan
kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman.” (QS. an-nisa:
141). sangat Syech menjawab, “karena kami masih Muslim belum Mukmin.”
Analisis yang sama dengan asy-Sya’rawi namun
dalam bentuk kajian yang lebih detail, disampaikan oleh syakib arsalan ketika
beliau membahas limadza ta’akhara muslimin wa limadza taqaddama ghairuhum (mengapa
umat Islam mundur, sedangkan umat lainnya maju?). dalam risalah tersebut,
setidaknya ada 5 faktor yang menyebabkan kemunduran umat Islam. Pertama,
kebodohan. salah salah satu tandanya adalah mudah menerima kebohongan dan
perkataan kosong. Kedua, kecanggungan. hal ini diakibatkan kurangnya
pengetahuan. sehingga menjadi canggung (Gagap) teknologi dan kurang menguasai
ilmu pengetahuan yang lainnya. Ketiga, kerusakan moral hilangnya kesantunan dan
nilai-nilai budi pekerti luhur yang diajarkan oleh al-Qur’an. Keempat,
penghianatan para pemimpin. perbuatan mereka merusak amal sosial-politik umat. Kelima,
sifat penakut dan pengecut. merasa lelah, hina, lemah dan tidak berani
berkorban. padahal Allah telah mengingatkan agar menghindari sifat-sifat
tersebut. jika disimpulkan, menurut Syekh arsalan, dalam tubuh umat ini, tidak
terlihat adanya tanda bukti-bukti keimanan sebagaimana yang diajarkan oleh
Alquran.
Memahami konsep iman
Surat alhujurat ayat 14 yang sempat di
singgung diatas, dengan sangat jelas membedakan antara “berislam” dan “beriman.”
ketika membahas Ayat tersebut, dalam tafsirnya, al-maraghi mengutip perkataan
Az-zajaj tentang perbedaan antara “berislam” dan “beriman.” Menurutnya, “Islam
adalah menunjukkan ketundukan dan penerimaan terhadap apa-apa yang dibawa oleh
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan dengan demikian nyawanya
terlindungi. sedangkan apabila ketundukan dan penerimaan itu disertai dengan
adanya keyakinan dan pembenaran di dalam hati, Maka itulah yang disebut dengan
iman.” sedangkan menurut al-maraghi sendiri, ungkapan Alquran yang menyebut “kalian
belum beriman”, menunjukkan gaya bahasa yang beradab. itulah kelembutan Alquran
yang tidak berkata, “kalian telah berdusta!”
Asy-Syanqiti menjelaskan bahwa penegasan iman
dalam ayat ini mengandung dua kemungkinan; pertama, kemunafikan. Sebab, orang
Arab badui dalam ayat tersebut hanya menampakkan keislaman tapi batiknya masih
kafir. Kedua, maksudnya adalah menafikan kesempurnaan iman, bukan menyatakan
tidak ada keimanan sama sekali. pendapat kedua inilah yang dikuatkan karena
memang menurut ahlussunnah wal jamaah, keimanan itu Bisa bertambah dan
berkurang. dalam ilmu aqidah, disebutkan bahwa seluruh Iman seluruh Imam mazhab
dan mayoritas ulama lainnya bersepakat bahwa definisi iman adalah, “tasdiqu Bil janan wa iqrarun bil lisan wa ‘amalun bil Arkan” (membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan
dan mengamalkan dengan anggota badan).
Di dalam al-quran ada sekitar 25 ayat yang
mengandung kan antara iman dan amal shaleh. hal ini menunjukkan bahwa keduanya
saling terkait dan tidak bisa dipisahkan. sebagaimana halnya cinta, iman
menuntut adanya pembuktian, bukan sekedar ucapan. singkatnya konsep beriman
dalam Islam tidak hanya sekedar keyakinan dalam hati. juga tidak sekedar
beriman dengan rukun iman yang enam yaitu beriman kepada Allah, para malaikat,
pada hari akhirat, para rasul, dan kitab-kitab mereka, dan takdir Allah.
beriman dalam Islam harus ditunjukkan dengan bentuk perilaku. Jadi, orang yang
sempurna keimannya, sudah pasti dia orang dia orang baik-baik yang jauh dari
dosa-dosa besar seperti mencuri, berzina, membunuh dan lain-lainnya.
Iman sebagai syarat kejayaan
Allah ta'ala berfirman, “Dan Allah telah
berjanji kepada orang-orang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal saleh
bahwa dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi,
sebagaimana dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan
sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoinya untuk
mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam
ketakutan menjadi aman Sentosa. mereka tetap menyembahku dengan tiada
mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan barangsiapa yang telah kafir
sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. an-nur 55).
ketika menerangkan ayat ini, Ibnu Katsir dalam
tafsirnya berkata bahwa, “ayat ini merupakan janji dari Allah ta'ala kepada
rasulnya Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa dia akan mengangkat para Khilafah
dari umatnya sebagai pemimpin pemimpin manusia yang dan penguasa mereka. dengan
mereka, negeri-negeri akan menjadi baik dan semua hamba Allah akan tunduk
kepada mereka. janji diatas pasti akan terpenuhi karena Allah tidak pernah
mengingkari janjinya. kata kunci yang menjadi syarat untuk meraih kejayaan
adalah iman dan amal shaleh. tugas umat Islam adalah memantaskan diri untuk
mendapat kejayaan dengan menjadi mukmin yang baik dan benar sebagaimana Allah
yang sebagaimana yang Allah inginkan.
Meskipun bagi orang-orang atheis, orang Islam
itu menerima harapan serta janji-janji yang tidak pasti dan tidak terbukti
dalam kehidupan. buktinya umat Islam tetap miskin dan terbelakang dibanding
masyarakat barat. Mereka rupanya tidak mengerti perbedaan antara Muslim dan
Mukmin. orang yang mendapat janji itu orang yang beriman dan beramal saleh,
sedangkan Kebanyakan orang Islam saat ini tidak beriman dan tidak beramal saleh,
sehingga amal mereka tidak memadai untuk menerima janji-janji Allah yang
disebutkan dalam Alquran. Alquran dengan jelas mengingatkan; “janganlah kamu
bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal Kamulah (sebenarnya)
adalah orang-orang yang (mempunyai derajat) yang paling tinggi, jika kamu
sekalian beriman.” QS. Ali Imron 39). Padahal, negara-negara berideologi
komunisme dan sosialisme ataupun yang berisi sistem kapitalisme, ternyata juga
tidak menghasilkan kemakmuran, kesejahteraan, keadilan, dan pemerataan, seperti
yang dijanjikan oleh ideologi tersebut. terlebih lagi, di soal kebahagiaan
lahir dan batin.
Rabu, 18 November 2020
surat kabar jawa pos
Minggu, 08 November 2020
psikoterapi islam
kitab tafsir al-Qurtuby
Contoh kitab Tafsir dan MetodologiPenulisannya Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, ...
-
Hakikat Manusia Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gont...
-
Istilah Manusia dalam Al-Qur’an Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushulu...
-
Perkembangan Ilmu Semantik Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin,...