Senin, 30 November 2020

Metode Pembelajaran Al-Qur’an pada saat ini



Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor 2020.

Temen-temen yang saya banggakan, alhamdulillah pada saat ini kita masih diberi kesehatan oleh Allah SWT. Maka dari itu marilah kita selalu bersyukur kepada Allah SWT. Baiklah temen-temen disini Kami ingin memaparkan sedikit pengetahuan tentang metode Pembelajaran Al-Qur’an pada saat ini.
Al-Qur’an sebagi kitab suci mempunyai tiga aspek yang masing-masing aspek perlu kita pelajari dengan seksama. Ketiga aspek tersebut ialah :
a.      Aspek Pembacaan
b.     Aspek Peghapalan
c.      Aspek pemahaman yang mencakup penerjemahan dan penafsiran
Berikut ini penulis akan mengemukakan metode pembacaan dan pemahaman Al-Qur’an :

a. Metode Iqro’
Metode iqro’ adalah suatu metode membaca Al-Qur'an yang menekankan langsung pada latihan membaca. Adapun buku panduan iqro’ terdiri dari 6 jilid di mulai dari tingkat yang sederhana, tahap demi tahap sampai pada tingkatan yang sempurna.
Metode Iqro’ ini disusun oleh Ustadz As’ad Human yang berdomisili di Yogyakarta. Kitab Iqro’ dari ke-enam jilid tersebut di tambah satu jilid lagi yang berisi tentang doa-doa. Dalam setiap jilid terdapat petunjuk pembelajarannya dengan maksud memudahkan setiap orang yang belajar maupun yang mengajar Al-Qur'an.
Metode iqro’ ini dalam prakteknya tidak mem-butuhkan alat yang bermacam-macam, karena ditekan-kan pada bacaannya (membaca huruf Al-Qur'an dengan fasih). Bacaan langsung tanpa dieja. Artinya tidak diperkenalkan nama-nama huruf hijaiyah dengan cara belajar siswa aktif (CBSA) dan lebih bersifat individual.
Adapun kelemahan dan kelebihan metode Iqro’ adalah:
1.      Kelebihan
Menggunakan metode CBSA, jadi bukan guru yang aktif melainkan santri yang dituntut aktif.
Dalam penerapannya menggunakan klasikal (membaca secara bersama) privat, maupun cara eksistensi (santri yang lebih tinggi jilid-nya dapat menyimak bacaan temannya yang berjilid rendah).
Komunikatif artinya jika santri mampu membaca dengan baik dan benar guru dapat memberikan sanjungan, perhatian dan peng-hargaan.
Bila ada santri yang sama tingkat pelajaran-nya, boleh dengan sistem tadarrus, secara bergilir membaca sekitar dua baris sedang lainnya menyimak.
Bukunya mudah di dapat di toko-toko.
2.      Kekurangan
a.       Bacaan-bacaan tajwid tak dikenalkan sejak dini.
b.      Tak ada media belajar
c.       Tak dianjurkan menggunakan irama murottal.

b. Metode Al-Baghdad
Metode Al-Baghdady adalah metode tersusun (tarkibiyah), maksudnya yaitu suatu metode yang tersusun secara berurutan dan merupakan sebuah proses ulang atau lebih kita kenal dengan sebutan metode alif, ba’, ta’. Metode ini adalah metode yang paling lama muncul dan metode yang pertama berkembang di Indonesia.
Cara pembelajaran metode ini adalah:
-          Hafalan
-          Eja
-          Modul
-          Tidak variatif
-          pemberian contoh yang absolute
Metode ini mempunyai kelebihan dan kekurang-an, yaitu:
1.      Kelebihan
Santri akan mudah dalam belajar karena sebelum diberikan materi, santri sudah hafal huruf-huruf hijaiyah.
Santri yang lancar akan cepat melanjutkan pada materi selanjutnya karena tidak menunggu orang lain.
2.      Kekurangan
Membutuhkan waktu yang lama karena harus menghafal huruf hijaiyah dahulu dan harus dieja.
Santri kurang aktif karena harus mengikuti ustadz-ustadznya dalam membaca.
Kurang variatif karena menggunakan satu jilid saja.

c. Metode An-Nahdhiyah
Metode An-Nahdhiyah adalah salah satu metode membaca Al-Qur'an yang muncul di daerah Tulungagung, Jawa Timur. Metode ini disusun oleh sebuah lembaga pendidikan Ma’arif Cabang Tulungagung. Karena metode ini merupakan metode pengembangan dari metode Al-Baghdady, maka materi pembelajaran Al-Qur'an tidak jauh berbeda dengan metode Qira’ati dan Iqro’. Dan perlu diketahui bahwa pembelajaran metode ini lebih ditekankan pada kesesuaian dan keteraturan bacaan dengan ketukan atau lebih tepatnya pembelajaran Al-Qur'an pada metode ini lebih menekankan pada kode “Ketukan”. Dalam pelaksanaan metode ini mempunyai dua program yang harus diselesaikan oleh para santri, yaitu:
Program buku paket  yaitu program awal sebagai dasar pembekalan untuk mengenal dan memahami serta mempraktekkan mem-baca Al-Qur'an
Program sorogan Al-Qur'an yaitu program lanjutan sebagai aplikasi praktis untuk meng-antarkan santri mampu membaca Al-Qur'an sampai khatam.
Dalam metode ini buku paketnya tidak dijual bebas bagi yang ingin menggunakannya atau ingin menjadi guru pada metode ini harus sudah mengikuti penataran calon guru metode An-Nahdhiyah.
Dalam program sorogan Al-Qur'an ini santri akan diajarkan bagaimana cara-cara membaca Al-Qur'an yang sesuai dengan sistem bacaan dalam membaca Al-Qur'an. Dimana santri langsung praktek membaca Al-Qur'an besar. Disini santri akan diperkenalkan beberapa sistem bacaan, yaitu  tartil, tahqiq, dan taghanni.

d. Metode Jibril
Terminology (istilah) metode jibril yang digunakan sebagai nama dari pembelajaran Al-Qur'an yang diterapkan di PIQ Singosari Malang, adalah dilatar belakangi perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengikuti bacaan Al-Qur'an yang telah diwahyukan melalui malaikat Jibril. Menurut KH. M. Bashori Alwi (dalam Taufiqur-rohman) sebagai pencetus metode jibril, bahwa teknik dasar metode jibril bermula dengan membaca satu ayat atau lanjutan ayat atau waqaf, lalu ditirukan oleh seluruh orang-orang yang mengaji. Sehingga mereka dapat menirukan bacaan guru dengan pas. Metode jibril terdapat 2 tahap yaitu tahqiq dan tartil.

e. Metode Qiro’ati
Metode Qiro’ati disusun oleh Ustadz H. Dahlan Salim Zarkasy pada tahun 1986 bertepatan pada tanggal 1 Juli. H.M Nur Shodiq Ahrom (sebagai penyusun didalam bukunya “Sistem Qa'idah Qira’ati” Ngembul, Kalipare), metode ini ialah membaca Al-Qur'an yang langsung memasukkan dan mempraktek-kan bacaan tartil sesuai dengan qa'idah ilmu tajwid sistem pendidikan dan pengajaran metode Qira’ati ini melalui system pendidikan berpusat pada murid dan kenaikan kelas/jilid tidak ditentukan oleh bulan/tahun dan tidak secara klasikal, tapi secara individual (perseorangan).
Santri/ anak didik dapat naik kelas/ jilid berikutnya dengan syarat:
1.      Sudah menguasai materi/paket pelajaran yang diberikan di kelas.
2.      Lulus tes yang telah diujikan oleh sekolah/TPA.
1. Prinsip –prinsip dasar Qiro’ati
prinsip-prinsip yang di pegang oleh guru/ustadz yaitu:
-          Tiwagas (teliti, waspada dan tegas)
-          Daktun (tidak boleh menuntun)
Prinsip-prinsip yang harus dipegang santri / anak didik:
-          CBSA : Cara belajar santri aktif.
-          LCTB  : Lancar cepat tepat dan benar.
2. Strategi mengajar dalam Qiro’ati
Dalam mengajar Al-Qur'an dikenal beberapa macam stategi. Yaitu:
1.       Strategi mengajar umum (global)
a.       Individu atau privat yaitu santri bergiliran membaca satu persatu.
b.      Klasikal Individu  yaitu sebagian waktu digunakan guru/ustadz untuk menerangkan pokok pelajaran secara klasikal.
c.       Klasikal baca simak yaitu strategi ini digunakan untuk mengajarkan membaca dan menyimak  bacaan Al-Qur'an orang lain.
2.       Strategi mengajar khusus (detil)
Strategi ini agar berjalan dengan baik maka perlu di perhatikan syarat-syaratnya. Dan strategi ini meng-ajarkannya secara khusus atau detil. Dalam mengajar-kan metode qiro’ati ada I sampai VI yaitu:

Jilid I
Jilid I adalah kunci keberhasilan dalam belajar membaca Al-Qur'an. Apabila Jilid I lancar pada jilid selanjutnya akan lancar pula, guru harus memperhatikan kecepatan santri.
Jilid II
Jilid II adalah lanjutan dari Jilid I yang disini telah terpenuhi target Jilid I.
Jilid III
Jilid III adalah setiap pokok bahasan lebih ditekankan pada bacaan panjang (huruf mad).
Jilid IV
Jilid ini merupakan kunci keberhasilan dalam bacaan tartil dan bertajwid.
Jilid V
Jilid V ini lanjutan dari Jilid IV. Disini diharapkan sudah harus mampu membaca dengan baik dan benar
Jilid VI
Jilid ini adalah jilid yang terakhir yang kemudian dilanjutkan dengan pelajaran Juz 27.

Juz I sampai Juz VI mempunyai target yang harus dicapai sehingga disini guru harus lebih sering melatih peserta didik agar target-target itu tercapai. Metode ini mempunyai kelebihan dan kekurangan antara lain:
Kelebihannya :
1.      Siswa walaupun belum mengenal tajwid tetapi sudah bisa membaca Al-Qur'an secara tajwid. Karena belajar ilmu tajwid itu hukumnya fardlu kifayah sedangkan membaca Al-Qur'andengan tajwidnya itu fardlu ain.
2.      Dalam metode ini terdapat prinsip untuk guru dan murid.
3.      Pada metode ini setelah khatam meneruskan lagi bacaan ghorib.
4.      Jika santri sudah lulus 6 Jilid beserta ghoribnya, maka ditest bacaannya kemudian setelah itu santri mendapatkan syahadah jika lulus test.
Kekurangannya:
Bagi yang tidak lancar lulusnya juga akan lama karena metode ini lulusnya tidak ditentukan oleh bulan/tahun.

Minggu, 29 November 2020

Meraih kejayaan dengan kesempurnaan iman

Meraih kejayaan dengan kesempurnaan iman 

Malik bennabi, salah seorang intelektual muslim asal Aljazair, berpendapat bahwa masyarakat Islam hari ini adalah masyarakat “pasca peradaban” (marhalah maa ba’da al-hadharah). Artinya, masyarakat yang telah melampaui fase peradaban yang sudah jumud (Stagnan) pemikirannya dan bergerak ke belakang; tidak lagi produktif karena tidak menghasilkan karya-karya peradaban dan mengadakan perubahan-perubahan yang fundamental. Malik Bennabi, pemikir yang kerap disebut Ibnu Khaldun kedua ini bahkan menilai bahwa umat Islam sekarang adalah umat yang “al-qabiliyyah lil isti’ma” (masyarakat yang layak untuk dijajah).

Senada dengan ungkapan di atas, Fethullah Gulen, aktivis perdamaian asal Turki yang sangat berpengaruh, mengatakan bahwa krisis yang dialami oleh umat Islam sekarang adalah krisis yang multidimensi dan menyeluruh. mulai dari aqidah, akhlak, pola pikir, pendidikan, produktivitas, tradisi, budaya, bahkan hingga ranah sosial-politik.

mereka Terbelenggu Dalam kebodohan, dekadensi moral, klenik, dan hedonisme yang hanya ingin memuaskan syahwat jasmani. mereka sedang terbenam dalam kegelapan yang parah. mereka bingung Bagai anak ayam kehilangan induk, atau laksana biji-biji tasbih yang lepas dari tali perangkatnya. saat ini mereka sedang tertindas di bawah kaki kekuatan yang tak kasat mata. mereka tertekan dan terguncang, lemah tak berdaya, remuk redam, centang-perenang, dikoyak kuasa jahat, mereka semua kebingungan.

Penyebab keterpurukan

kondisi seperti yang digambarkan di atas, membuat Sebagai sebagian kaum muslimin merasa minder dan tidak percaya diri dengan identitas keislamannya (inferiority complex). di saat yang bersamaan, mereka lebih kagum dan terpesona dengan segala sesuatu yang berasal dari barat. realita yang sedemikian parah itu juga menjadi bahan sindiran oleh para orientalis. sebagaimana kisah yang dialami oleh Syekh mutawalli as sya'rawi saat berkunjung ke San Fransisco-Amerika. beliau ditanya oleh seorang orientalis, “Apakah ayat-ayat di Alquran seluruhnya benar?”, sang Syeikh menjawab dengan tegas, “iya, Saya yakin benar.” orientalis itu bertanya, “lagi lalu Mengapa Allah jadikan orang-orang kafir berkuasa atas kalian, padahal dalam al-qur'an disebut bahwa, “dan Allah Ah sekali-kali tidak memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman.” (QS. an-nisa: 141). sangat Syech menjawab, “karena kami masih Muslim belum Mukmin.”

Analisis yang sama dengan asy-Sya’rawi namun dalam bentuk kajian yang lebih detail, disampaikan oleh syakib arsalan ketika beliau membahas limadza ta’akhara muslimin wa limadza taqaddama ghairuhum (mengapa umat Islam mundur, sedangkan umat lainnya maju?). dalam risalah tersebut, setidaknya ada 5 faktor yang menyebabkan kemunduran umat Islam. Pertama, kebodohan. salah salah satu tandanya adalah mudah menerima kebohongan dan perkataan kosong. Kedua, kecanggungan. hal ini diakibatkan kurangnya pengetahuan. sehingga menjadi canggung (Gagap) teknologi dan kurang menguasai ilmu pengetahuan yang lainnya. Ketiga, kerusakan moral hilangnya kesantunan dan nilai-nilai budi pekerti luhur yang diajarkan oleh al-Qur’an. Keempat, penghianatan para pemimpin. perbuatan mereka merusak amal sosial-politik umat. Kelima, sifat penakut dan pengecut. merasa lelah, hina, lemah dan tidak berani berkorban. padahal Allah telah mengingatkan agar menghindari sifat-sifat tersebut. jika disimpulkan, menurut Syekh arsalan, dalam tubuh umat ini, tidak terlihat adanya tanda bukti-bukti keimanan sebagaimana yang diajarkan oleh Alquran.

Memahami konsep iman

Surat alhujurat ayat 14 yang sempat di singgung diatas, dengan sangat jelas membedakan antara “berislam” dan “beriman.” ketika membahas Ayat tersebut, dalam tafsirnya, al-maraghi mengutip perkataan Az-zajaj tentang perbedaan antara “berislam” dan “beriman.” Menurutnya, “Islam adalah menunjukkan ketundukan dan penerimaan terhadap apa-apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan dengan demikian nyawanya terlindungi. sedangkan apabila ketundukan dan penerimaan itu disertai dengan adanya keyakinan dan pembenaran di dalam hati, Maka itulah yang disebut dengan iman.” sedangkan menurut al-maraghi sendiri, ungkapan Alquran yang menyebut “kalian belum beriman”, menunjukkan gaya bahasa yang beradab. itulah kelembutan Alquran yang tidak berkata, “kalian telah berdusta!”

Asy-Syanqiti menjelaskan bahwa penegasan iman dalam ayat ini mengandung dua kemungkinan; pertama, kemunafikan. Sebab, orang Arab badui dalam ayat tersebut hanya menampakkan keislaman tapi batiknya masih kafir. Kedua, maksudnya adalah menafikan kesempurnaan iman, bukan menyatakan tidak ada keimanan sama sekali. pendapat kedua inilah yang dikuatkan karena memang menurut ahlussunnah wal jamaah, keimanan itu Bisa bertambah dan berkurang. dalam ilmu aqidah, disebutkan bahwa seluruh Iman seluruh Imam mazhab dan mayoritas ulama lainnya bersepakat bahwa definisi iman adalah, “tasdiqu Bil janan wa iqrarun bil lisan wa ‘amalun bil Arkan” (membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan).

Di dalam al-quran ada sekitar 25 ayat yang mengandung kan antara iman dan amal shaleh. hal ini menunjukkan bahwa keduanya saling terkait dan tidak bisa dipisahkan. sebagaimana halnya cinta, iman menuntut adanya pembuktian, bukan sekedar ucapan. singkatnya konsep beriman dalam Islam tidak hanya sekedar keyakinan dalam hati. juga tidak sekedar beriman dengan rukun iman yang enam yaitu beriman kepada Allah, para malaikat, pada hari akhirat, para rasul, dan kitab-kitab mereka, dan takdir Allah. beriman dalam Islam harus ditunjukkan dengan bentuk perilaku. Jadi, orang yang sempurna keimannya, sudah pasti dia orang dia orang baik-baik yang jauh dari dosa-dosa besar seperti mencuri, berzina, membunuh dan lain-lainnya.

Iman sebagai syarat kejayaan

Allah ta'ala berfirman, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal saleh bahwa dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoinya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman Sentosa. mereka tetap menyembahku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan barangsiapa yang telah kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. an-nur 55).

ketika menerangkan ayat ini, Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata bahwa, “ayat ini merupakan janji dari Allah ta'ala kepada rasulnya Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa dia akan mengangkat para Khilafah dari umatnya sebagai pemimpin pemimpin manusia yang dan penguasa mereka. dengan mereka, negeri-negeri akan menjadi baik dan semua hamba Allah akan tunduk kepada mereka. janji diatas pasti akan terpenuhi karena Allah tidak pernah mengingkari janjinya. kata kunci yang menjadi syarat untuk meraih kejayaan adalah iman dan amal shaleh. tugas umat Islam adalah memantaskan diri untuk mendapat kejayaan dengan menjadi mukmin yang baik dan benar sebagaimana Allah yang sebagaimana yang Allah inginkan.

Meskipun bagi orang-orang atheis, orang Islam itu menerima harapan serta janji-janji yang tidak pasti dan tidak terbukti dalam kehidupan. buktinya umat Islam tetap miskin dan terbelakang dibanding masyarakat barat. Mereka rupanya tidak mengerti perbedaan antara Muslim dan Mukmin. orang yang mendapat janji itu orang yang beriman dan beramal saleh, sedangkan Kebanyakan orang Islam saat ini tidak beriman dan tidak beramal saleh, sehingga amal mereka tidak memadai untuk menerima janji-janji Allah yang disebutkan dalam Alquran. Alquran dengan jelas mengingatkan; “janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal Kamulah (sebenarnya) adalah orang-orang yang (mempunyai derajat) yang paling tinggi, jika kamu sekalian beriman.” QS. Ali Imron 39). Padahal, negara-negara berideologi komunisme dan sosialisme ataupun yang berisi sistem kapitalisme, ternyata juga tidak menghasilkan kemakmuran, kesejahteraan, keadilan, dan pemerataan, seperti yang dijanjikan oleh ideologi tersebut. terlebih lagi, di soal kebahagiaan lahir dan batin.

Rabu, 18 November 2020

surat kabar jawa pos



Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor 2020.

Suarat kabar Jawa Pos.
Jawa Pos adalah surat kabar harian yang berpusat di Surabaya, Jawa Timur. Jawa Pos merupakan salah satu perusahaan media tertua di Jawa Timur yang masih beroperasi, dan merupakan surat kabar dengan oplah terbesar di Indonesia dengan sirkulasi rata-rata mencapai 842.000 per hari menurut Nielsen Consumer & Media View (CMV).[1]
Sejarah
Jawa Pos didirikan oleh The Chung Shen pada 1 Juli 1949 dengan nama Djava-Post. Saat itu The Chung Shen hanyalah seorang pegawai bagian iklan sebuah bioskop di Surabaya. Karena setiap hari dia harus memasang iklan bioskop di surat kabar, lama-lama ia tertarik untuk membuat surat kabar sendiri.
Setelah sukses dengan Jawa Pos-nya, The Chung Shen mendirikan pula Koran berbahasa Mandarin Hwa Chiao Sien Wen dan Belanda de Vrije Pers. Bisnis The Chung Shen di bidang surat kabar tidak selamanya mulus. Pada akhir tahun 1970-an, omzet Jawa Pos mengalami kemerosotan yang tajam. Tahun 1982, oplahnya hanya tinggal 6.800 eksemplar saja. Koran-korannya yang lain sudah lebih dulu pensiun. Ketika usianya menginjak 80 tahun, The Chung Shen akhirnya memutuskan untuk menjual Jawa Pos. Dia merasa tidak mampu lagi mengurus perusahaannya,sementara tiga orang anaknya lebih memilih tinggal di London, Inggris.




[1] Jurnal merdeka.com

Minggu, 08 November 2020

psikoterapi islam



Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor 2020.

Pengertian psikotrapi dalam Islam
Psikoterapi (Psychotherapy) mempunyai pengertian cukup banyak dan kabur, terutama karena istilah tersebut digunakan dalam berbagai bidang seperti psikiatri, psikologi, bimbingan dan penyuluhan (Guidance and counseling), kerja sosial (Case Work), pendidikan dan ilmu agama. Psikoterapi (psychotherapy) adalah pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis.[1]
Dalam perspektif bahasa kata psikoterapi berasal dari kata “psyche” dan “therapy” . Psyche mempunyai beberapa arti, antara lain:
1. Jiwa dan hati
2. Dalam mitologi yunani, psyche adalah seorang gadis cantik yang bersayap seperti sayap kupu-kupu. Jiwa di gambarkan berupa gadis dan kupu-kupu simbol keabadian.
3. Ruh, akal dan diri.
 4. Meneurut Freud, merupakan pelaksanaan-pelaksanaan kegiatan psikologis, terdiri dari bagian dasar (Conscious) dan bagian tidak sadar (Unconsious).
 5. Dalam bahasa Arab psyche dapat dipadankan dengan “nafs” dengan bentuk jamaknya “anfus” atau “nufus”. Ia memiliki beberapa arti, diantaranya: jiwa, ruh, darah, jasad, orang, diri dan sendiri.
Dari beberapa arti secara etimologis tersebut, dapat dipahami bahwa psyche atau nufs adalah bagian dari diri manusia dari aspek yang lebih bersifat rohaniyah dan paling tidak lebih banyak menyinggung sisi yang dalam dari eksistensi manusia, ketimbang fisik atau jasmaniyahnya.
Adapun kata “therapy” (dalam bahasa inggris) bermakna pengobatan dan penyembuhan, sedangkan dalam bahsa Arab kata therapy yang , ش فى - ىشفى – شفا ء dari berasal yang اآلستشفا ء dengan sepadan artinya menyembuhkan.
Psikoterapi (psychotherapy) ialah pengobaan penyakit dengan cara kebatinan, atau penerapan teknik khusus pada penyembuhan penyakit mental atau pada kesulitan-kesulitan penyesuaian diri setiap hari atau penyembuhan lewat keyakinan agama, dan disisi personal dengan para guru atau teman.
Pengertian psikoterapi secara istilah, ada beberapa pendapat yang dikemukakan para ahli (Rahayu, 2009:192-195) diantaranya:
Corsini, definisi psikoterapi sukar dirumuskan. Meskipun demikian itu merumuskan psikoterapi sebagai suatu proses formal dari interaksi antara dua pihak, masing-masing pihak biasanya terdiri satu orang, tetapi ada kemungkinan terdiri dari dua orang atau lebih. Proses ini bertujuan untuk memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan (distress) pada salah satu dari kedua belah pihak karena ketidak mampuan atau malafungsi pada salah satu dari bidang-bidang berikut: fungsi kognitif (kelalaian pada fungsi berfikir), fungsi afektif (penderitaan atau kehidupan emosi yang tidak menyenagkan) atau fungsi perilaku (ketidak tepatan perilaku) dengan terapis yang memiliki teori tentang asal usul kepribadian, perkembangan, mempertahankan dan mengubah bersama-sama dengan beberapa metode perawatan berdasarkan teori dan profesi yang diakui secara resmi untuk bertindak sebagai terapis.
Menurut Carl Gustav Jung, psikoterapi telah melampaui asal-usul medisnya dan tidak lagi merupakan suatu metode perawatan orang sakit. Psikoterapi kini digunakan untuk orang yang sehat atau pada mereka yang mempunyai hak atas kesehatan psikis yang penderitaannya menyiksa kita semua. Berdasarka pendapat Jung ini, bangunan psikoterapi selain digunakan untuk fungsi kuratif (penyembuhan), juga berfungsi prefentiv (pencegahan) dan konsruktif (pemeliharaan dan pengembangan jiwa yang sehat).[2] Ketiga fungsi tersebut mengisyaratkan bahwa usaha-usaha untuk berkonsultasi pada psikiater tidak hanya ketika psikis seorang dengan kondisi sakit. Alangkah lebih baik jika dilakukan sebelum datangnya gejala atau penyakit mental, karena hal itu dapat membangun kepribadian yang sempurna.




[1] Yahya Jaya, Spiritual Islam Dalam Menumbuhkembangkan Kepribadian dan Kesehatan Mental, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya Offset, 1994), Cet. I. hlm. 166
[2] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), Cet. 1, hlm. 208

kitab tafsir al-Qurtuby

Contoh kitab Tafsir dan MetodologiPenulisannya Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, ...