Minggu, 08 November 2020

psikoterapi islam



Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor 2020.

Pengertian psikotrapi dalam Islam
Psikoterapi (Psychotherapy) mempunyai pengertian cukup banyak dan kabur, terutama karena istilah tersebut digunakan dalam berbagai bidang seperti psikiatri, psikologi, bimbingan dan penyuluhan (Guidance and counseling), kerja sosial (Case Work), pendidikan dan ilmu agama. Psikoterapi (psychotherapy) adalah pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis.[1]
Dalam perspektif bahasa kata psikoterapi berasal dari kata “psyche” dan “therapy” . Psyche mempunyai beberapa arti, antara lain:
1. Jiwa dan hati
2. Dalam mitologi yunani, psyche adalah seorang gadis cantik yang bersayap seperti sayap kupu-kupu. Jiwa di gambarkan berupa gadis dan kupu-kupu simbol keabadian.
3. Ruh, akal dan diri.
 4. Meneurut Freud, merupakan pelaksanaan-pelaksanaan kegiatan psikologis, terdiri dari bagian dasar (Conscious) dan bagian tidak sadar (Unconsious).
 5. Dalam bahasa Arab psyche dapat dipadankan dengan “nafs” dengan bentuk jamaknya “anfus” atau “nufus”. Ia memiliki beberapa arti, diantaranya: jiwa, ruh, darah, jasad, orang, diri dan sendiri.
Dari beberapa arti secara etimologis tersebut, dapat dipahami bahwa psyche atau nufs adalah bagian dari diri manusia dari aspek yang lebih bersifat rohaniyah dan paling tidak lebih banyak menyinggung sisi yang dalam dari eksistensi manusia, ketimbang fisik atau jasmaniyahnya.
Adapun kata “therapy” (dalam bahasa inggris) bermakna pengobatan dan penyembuhan, sedangkan dalam bahsa Arab kata therapy yang , ش فى - ىشفى – شفا ء dari berasal yang اآلستشفا ء dengan sepadan artinya menyembuhkan.
Psikoterapi (psychotherapy) ialah pengobaan penyakit dengan cara kebatinan, atau penerapan teknik khusus pada penyembuhan penyakit mental atau pada kesulitan-kesulitan penyesuaian diri setiap hari atau penyembuhan lewat keyakinan agama, dan disisi personal dengan para guru atau teman.
Pengertian psikoterapi secara istilah, ada beberapa pendapat yang dikemukakan para ahli (Rahayu, 2009:192-195) diantaranya:
Corsini, definisi psikoterapi sukar dirumuskan. Meskipun demikian itu merumuskan psikoterapi sebagai suatu proses formal dari interaksi antara dua pihak, masing-masing pihak biasanya terdiri satu orang, tetapi ada kemungkinan terdiri dari dua orang atau lebih. Proses ini bertujuan untuk memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan (distress) pada salah satu dari kedua belah pihak karena ketidak mampuan atau malafungsi pada salah satu dari bidang-bidang berikut: fungsi kognitif (kelalaian pada fungsi berfikir), fungsi afektif (penderitaan atau kehidupan emosi yang tidak menyenagkan) atau fungsi perilaku (ketidak tepatan perilaku) dengan terapis yang memiliki teori tentang asal usul kepribadian, perkembangan, mempertahankan dan mengubah bersama-sama dengan beberapa metode perawatan berdasarkan teori dan profesi yang diakui secara resmi untuk bertindak sebagai terapis.
Menurut Carl Gustav Jung, psikoterapi telah melampaui asal-usul medisnya dan tidak lagi merupakan suatu metode perawatan orang sakit. Psikoterapi kini digunakan untuk orang yang sehat atau pada mereka yang mempunyai hak atas kesehatan psikis yang penderitaannya menyiksa kita semua. Berdasarka pendapat Jung ini, bangunan psikoterapi selain digunakan untuk fungsi kuratif (penyembuhan), juga berfungsi prefentiv (pencegahan) dan konsruktif (pemeliharaan dan pengembangan jiwa yang sehat).[2] Ketiga fungsi tersebut mengisyaratkan bahwa usaha-usaha untuk berkonsultasi pada psikiater tidak hanya ketika psikis seorang dengan kondisi sakit. Alangkah lebih baik jika dilakukan sebelum datangnya gejala atau penyakit mental, karena hal itu dapat membangun kepribadian yang sempurna.




[1] Yahya Jaya, Spiritual Islam Dalam Menumbuhkembangkan Kepribadian dan Kesehatan Mental, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya Offset, 1994), Cet. I. hlm. 166
[2] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), Cet. 1, hlm. 208

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kitab tafsir al-Qurtuby

Contoh kitab Tafsir dan MetodologiPenulisannya Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, ...