Pengertian psikotrapi dalam Islam
Psikoterapi (Psychotherapy) mempunyai pengertian cukup banyak dan
kabur, terutama karena istilah tersebut digunakan dalam berbagai bidang seperti
psikiatri, psikologi, bimbingan dan penyuluhan (Guidance and counseling), kerja
sosial (Case Work), pendidikan dan ilmu agama. Psikoterapi (psychotherapy) adalah pengobatan alam pikiran, atau
lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis.[1]
Dalam perspektif bahasa kata
psikoterapi berasal dari kata “psyche” dan “therapy” . Psyche mempunyai
beberapa arti, antara lain:
1. Jiwa dan hati
2. Dalam mitologi yunani, psyche
adalah seorang gadis cantik yang bersayap seperti sayap kupu-kupu. Jiwa di
gambarkan berupa gadis dan kupu-kupu simbol keabadian.
3. Ruh, akal dan diri.
4. Meneurut Freud, merupakan
pelaksanaan-pelaksanaan kegiatan psikologis, terdiri dari bagian dasar
(Conscious) dan bagian tidak sadar (Unconsious).
5. Dalam bahasa Arab psyche dapat dipadankan
dengan “nafs” dengan bentuk jamaknya “anfus” atau “nufus”. Ia memiliki beberapa
arti, diantaranya: jiwa, ruh, darah, jasad, orang, diri dan sendiri.
Dari beberapa arti secara etimologis tersebut, dapat
dipahami bahwa psyche atau nufs adalah bagian dari diri manusia dari aspek yang
lebih bersifat rohaniyah dan paling tidak lebih banyak menyinggung sisi yang
dalam dari eksistensi manusia, ketimbang fisik atau jasmaniyahnya.
Adapun kata “therapy” (dalam bahasa inggris)
bermakna pengobatan dan penyembuhan, sedangkan dalam bahsa Arab kata therapy
yang , ش فى - ىشفى –
شفا ء
dari berasal yang اآلستشفا
ء
dengan sepadan artinya menyembuhkan.
Psikoterapi (psychotherapy) ialah pengobaan
penyakit dengan cara kebatinan, atau penerapan teknik khusus pada penyembuhan
penyakit mental atau pada kesulitan-kesulitan penyesuaian diri setiap hari atau
penyembuhan lewat keyakinan agama, dan disisi personal dengan para guru atau
teman.
Pengertian psikoterapi secara istilah, ada beberapa pendapat yang
dikemukakan para ahli (Rahayu, 2009:192-195) diantaranya:
Corsini, definisi psikoterapi sukar dirumuskan. Meskipun demikian
itu merumuskan psikoterapi sebagai suatu proses formal dari interaksi antara
dua pihak, masing-masing pihak biasanya terdiri satu orang, tetapi ada
kemungkinan terdiri dari dua orang atau lebih. Proses ini bertujuan untuk
memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan (distress) pada salah satu dari
kedua belah pihak karena ketidak mampuan atau malafungsi pada salah satu dari
bidang-bidang berikut: fungsi kognitif (kelalaian pada fungsi berfikir), fungsi
afektif (penderitaan atau kehidupan emosi yang tidak menyenagkan) atau fungsi
perilaku (ketidak tepatan perilaku) dengan terapis yang memiliki teori tentang
asal usul kepribadian, perkembangan, mempertahankan dan mengubah bersama-sama
dengan beberapa metode perawatan berdasarkan teori dan profesi yang diakui
secara resmi untuk bertindak sebagai terapis.
Menurut Carl Gustav Jung, psikoterapi telah melampaui asal-usul
medisnya dan tidak lagi merupakan suatu metode perawatan orang sakit.
Psikoterapi kini digunakan untuk orang yang sehat atau pada mereka yang
mempunyai hak atas kesehatan psikis yang penderitaannya menyiksa kita semua.
Berdasarka pendapat Jung ini, bangunan psikoterapi selain digunakan untuk
fungsi kuratif (penyembuhan), juga berfungsi prefentiv (pencegahan) dan
konsruktif (pemeliharaan dan pengembangan jiwa yang sehat).[2]
Ketiga fungsi tersebut mengisyaratkan bahwa usaha-usaha untuk berkonsultasi
pada psikiater tidak hanya ketika psikis seorang dengan kondisi sakit. Alangkah
lebih baik jika dilakukan sebelum datangnya gejala atau penyakit mental, karena
hal itu dapat membangun kepribadian yang sempurna.
[1] Yahya Jaya, Spiritual
Islam Dalam Menumbuhkembangkan Kepribadian dan Kesehatan Mental, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya
Offset, 1994), Cet. I. hlm. 166
[2] Abdul Mujib dan
Jusuf Mudzakkir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2001), Cet. 1, hlm. 208
Tidak ada komentar:
Posting Komentar