Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu
Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor 2020.
Temen-temen
yang saya banggakan, alhamdulillah pada saat ini kita masih diberi kesehatan
oleh Allah SWT. Maka dari itu marilah kita selalu bersyukur kepada Allah SWT. Baiklah
temen-temen disini Kami ingin memaparkan sedikit pengetahuan tentang metode
Pembelajaran Al-Qur’an pada saat ini.
Al-Qur’an
sebagi kitab suci mempunyai tiga aspek yang masing-masing aspek perlu kita
pelajari dengan seksama. Ketiga aspek tersebut ialah :
a. Aspek
Pembacaan
b. Aspek
Peghapalan
c. Aspek
pemahaman yang mencakup penerjemahan dan penafsiran
Berikut
ini penulis akan mengemukakan metode pembacaan dan pemahaman Al-Qur’an :
a. Metode Iqro’
Metode iqro’ adalah suatu metode membaca Al-Qur'an yang menekankan
langsung pada latihan membaca. Adapun buku panduan iqro’ terdiri dari 6 jilid
di mulai dari tingkat yang sederhana, tahap demi tahap sampai pada tingkatan
yang sempurna.
Metode Iqro’ ini disusun oleh Ustadz As’ad Human yang berdomisili
di Yogyakarta. Kitab Iqro’ dari ke-enam jilid tersebut di tambah satu jilid
lagi yang berisi tentang doa-doa. Dalam setiap jilid terdapat petunjuk
pembelajarannya dengan maksud memudahkan setiap orang yang belajar maupun yang
mengajar Al-Qur'an.
Metode iqro’ ini dalam prakteknya tidak mem-butuhkan alat yang
bermacam-macam, karena ditekan-kan pada bacaannya (membaca huruf Al-Qur'an
dengan fasih). Bacaan langsung tanpa dieja. Artinya tidak diperkenalkan
nama-nama huruf hijaiyah dengan cara belajar siswa aktif (CBSA) dan lebih
bersifat individual.
Adapun
kelemahan dan kelebihan metode Iqro’ adalah:
1. Kelebihan
Menggunakan
metode CBSA, jadi bukan guru yang aktif melainkan santri yang dituntut aktif.
Dalam
penerapannya menggunakan klasikal (membaca secara bersama) privat, maupun cara
eksistensi (santri yang lebih tinggi jilid-nya dapat menyimak bacaan temannya
yang berjilid rendah).
Komunikatif
artinya jika santri mampu membaca dengan baik dan benar guru dapat memberikan
sanjungan, perhatian dan peng-hargaan.
Bila
ada santri yang sama tingkat pelajaran-nya, boleh dengan sistem tadarrus,
secara bergilir membaca sekitar dua baris sedang lainnya menyimak.
Bukunya
mudah di dapat di toko-toko.
2. Kekurangan
a. Bacaan-bacaan
tajwid tak dikenalkan sejak dini.
b. Tak
ada media belajar
c. Tak
dianjurkan menggunakan irama murottal.
b.
Metode Al-Baghdad
Metode Al-Baghdady adalah metode tersusun (tarkibiyah), maksudnya
yaitu suatu metode yang tersusun secara berurutan dan merupakan sebuah proses
ulang atau lebih kita kenal dengan sebutan metode alif, ba’,
ta’. Metode ini adalah metode yang paling lama muncul dan metode yang
pertama berkembang di Indonesia.
Cara
pembelajaran metode ini adalah:
- Hafalan
- Eja
- Modul
- Tidak
variatif
- pemberian
contoh yang absolute
Metode
ini mempunyai kelebihan dan kekurang-an, yaitu:
1. Kelebihan
Santri
akan mudah dalam belajar karena sebelum diberikan materi, santri sudah hafal
huruf-huruf hijaiyah.
Santri
yang lancar akan cepat melanjutkan pada materi selanjutnya karena tidak
menunggu orang lain.
2. Kekurangan
Membutuhkan
waktu yang lama karena harus menghafal huruf hijaiyah dahulu dan harus dieja.
Santri
kurang aktif karena harus mengikuti ustadz-ustadznya dalam membaca.
Kurang
variatif karena menggunakan satu jilid saja.
c. Metode
An-Nahdhiyah
Metode An-Nahdhiyah adalah salah satu metode membaca Al-Qur'an yang
muncul di daerah Tulungagung, Jawa Timur. Metode ini disusun oleh sebuah
lembaga pendidikan Ma’arif Cabang Tulungagung. Karena metode ini merupakan
metode pengembangan dari metode Al-Baghdady, maka materi pembelajaran Al-Qur'an
tidak jauh berbeda dengan metode Qira’ati dan Iqro’. Dan perlu diketahui bahwa
pembelajaran metode ini lebih ditekankan pada kesesuaian dan keteraturan bacaan
dengan ketukan atau lebih tepatnya pembelajaran Al-Qur'an pada metode ini lebih
menekankan pada kode “Ketukan”. Dalam
pelaksanaan metode ini mempunyai dua program yang harus diselesaikan oleh para
santri, yaitu:
Program
buku paket yaitu program awal sebagai dasar pembekalan untuk mengenal dan
memahami serta mempraktekkan mem-baca Al-Qur'an
Program
sorogan Al-Qur'an yaitu program lanjutan sebagai aplikasi praktis untuk
meng-antarkan santri mampu membaca Al-Qur'an sampai khatam.
Dalam
metode ini buku paketnya tidak dijual bebas bagi yang ingin menggunakannya atau
ingin menjadi guru pada metode ini harus sudah mengikuti penataran calon guru
metode An-Nahdhiyah.
Dalam
program sorogan Al-Qur'an ini santri akan diajarkan bagaimana cara-cara membaca
Al-Qur'an yang sesuai dengan sistem bacaan dalam membaca Al-Qur'an. Dimana
santri langsung praktek membaca Al-Qur'an besar. Disini santri akan
diperkenalkan beberapa sistem bacaan, yaitu tartil, tahqiq, dan taghanni.
d. Metode Jibril
Terminology (istilah) metode jibril yang
digunakan sebagai nama dari pembelajaran Al-Qur'an yang diterapkan di PIQ
Singosari Malang, adalah dilatar belakangi perintah Allah SWT kepada Nabi
Muhammad SAW untuk mengikuti bacaan Al-Qur'an yang telah diwahyukan melalui
malaikat Jibril. Menurut KH. M. Bashori Alwi (dalam Taufiqur-rohman) sebagai
pencetus metode jibril, bahwa teknik dasar metode jibril bermula dengan membaca
satu ayat atau lanjutan ayat atau waqaf, lalu ditirukan oleh seluruh orang-orang
yang mengaji. Sehingga mereka dapat menirukan
bacaan guru dengan pas. Metode jibril terdapat 2 tahap
yaitu tahqiq dan tartil.
e. Metode Qiro’ati
Metode Qiro’ati disusun oleh Ustadz H. Dahlan
Salim Zarkasy pada tahun 1986 bertepatan pada tanggal 1 Juli. H.M Nur Shodiq
Ahrom (sebagai penyusun didalam bukunya “Sistem Qa'idah Qira’ati” Ngembul,
Kalipare), metode ini ialah membaca Al-Qur'an yang langsung memasukkan dan
mempraktek-kan bacaan tartil sesuai dengan qa'idah ilmu tajwid sistem pendidikan
dan pengajaran metode Qira’ati ini melalui system pendidikan berpusat pada
murid dan kenaikan kelas/jilid tidak ditentukan oleh bulan/tahun dan tidak
secara klasikal, tapi secara individual (perseorangan).
Santri/
anak didik dapat naik kelas/ jilid berikutnya dengan syarat:
1. Sudah
menguasai materi/paket pelajaran yang diberikan di kelas.
2. Lulus
tes yang telah diujikan oleh sekolah/TPA.
1.
Prinsip –prinsip dasar Qiro’ati
prinsip-prinsip
yang di pegang oleh guru/ustadz yaitu:
- Tiwagas
(teliti, waspada dan tegas)
- Daktun
(tidak boleh menuntun)
Prinsip-prinsip
yang harus dipegang santri / anak didik:
- CBSA
: Cara belajar santri aktif.
- LCTB
: Lancar cepat tepat dan benar.
2.
Strategi mengajar dalam Qiro’ati
Dalam
mengajar Al-Qur'an dikenal beberapa macam stategi. Yaitu:
1. Strategi
mengajar umum (global)
a. Individu
atau privat yaitu santri bergiliran membaca satu persatu.
b. Klasikal
Individu yaitu sebagian waktu digunakan guru/ustadz untuk menerangkan
pokok pelajaran secara klasikal.
c. Klasikal
baca simak yaitu strategi ini digunakan untuk mengajarkan membaca dan
menyimak bacaan Al-Qur'an orang lain.
2. Strategi
mengajar khusus (detil)
Strategi
ini agar berjalan dengan baik maka perlu di perhatikan syarat-syaratnya. Dan
strategi ini meng-ajarkannya secara khusus atau detil. Dalam mengajar-kan
metode qiro’ati ada I sampai VI yaitu:
Jilid
I
Jilid
I adalah kunci keberhasilan dalam belajar membaca Al-Qur'an. Apabila Jilid I
lancar pada jilid selanjutnya akan lancar pula, guru harus memperhatikan
kecepatan santri.
Jilid
II
Jilid
II adalah lanjutan dari Jilid I yang disini telah terpenuhi target Jilid I.
Jilid
III
Jilid
III adalah setiap pokok bahasan lebih ditekankan pada bacaan panjang (huruf
mad).
Jilid
IV
Jilid
ini merupakan kunci keberhasilan dalam bacaan tartil dan bertajwid.
Jilid
V
Jilid
V ini lanjutan dari Jilid IV. Disini diharapkan sudah harus mampu membaca
dengan baik dan benar
Jilid
VI
Jilid
ini adalah jilid yang terakhir yang kemudian dilanjutkan dengan pelajaran Juz
27.
Juz
I sampai Juz VI mempunyai target yang harus dicapai sehingga disini guru harus
lebih sering melatih peserta didik agar target-target itu tercapai. Metode ini
mempunyai kelebihan dan kekurangan antara lain:
Kelebihannya
:
1. Siswa
walaupun belum mengenal tajwid tetapi sudah bisa membaca Al-Qur'an secara
tajwid. Karena belajar ilmu tajwid itu hukumnya fardlu kifayah sedangkan
membaca Al-Qur'andengan tajwidnya itu fardlu ain.
2. Dalam
metode ini terdapat prinsip untuk guru dan murid.
3. Pada
metode ini setelah khatam meneruskan lagi bacaan ghorib.
4. Jika
santri sudah lulus 6 Jilid beserta ghoribnya, maka ditest bacaannya kemudian
setelah itu santri mendapatkan syahadah jika lulus test.
Kekurangannya:
Bagi
yang tidak lancar lulusnya juga akan lama karena metode ini lulusnya tidak
ditentukan oleh bulan/tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar