Minggu, 20 Desember 2020

Al-Qur’an Penyejuk Hati



Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor 2020.

Al-Qur’an adalah firman Allah yang berfungsi sebagai mukjizat (bukti kebenaran atas kenabian Muhammad) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang tertulis di dalam mushaf-mushaf, yang diriwayatkan dengan jalan mutawatir, dan yang membacanya dipandang beribadah.
Untuk mendapatkan jaminan keselamatan dan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat melalui Al-Qur’an, maka setiap umat Islam harus berusaha belajar, mengenal, membaca dan mempelajarinya.
Al-Qur’an diturunkan Allah kepada manusia untuk dibaca dan diamalkan. Ia telah terbukti menjadi pelita agung dalam memimpin manusia mengarungi perjalanan hidupnya. Tanpa membaca manusia tidak akan mengerti akan isinya dan tanpa mengamalkannya manusia tidak akan dapat merasakan kebaikan dan keutamaan petunjuk Allah dalam Al-Qur’an.
Di era globalisasi ini, banyak sekali pergeseran nilai dalam kehidupan masyarakat dikarenakan para generasi kita masih banyak yang belum mampu untuk membaca Al-Qur’an secara baik apalagi memahaminya. Oleh karena itu, sebagai orang tua harus mengusahakan sedini mungkin untuk mendidik dan membiasakan membaca Al-Quran.
Dengan membaca Al-Qur’an atau mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan hikmah serta meresapinya isinya niscaya akan mendapat petunjuk dari Allah SWT, serta dapat menenangkan hati. Itulah yang dinamakan Rahmat dari Allah SWT.
Al-Qur’an tidak hanya sebagai kitab suci, tetapi ia sekaligus merupakan pedoman hidup, sumber ketenangan jiwa serta dengan membaca Al-Qur’an dan mengetahui isinya dapat diharapkan akan mendapat Rahmat dari Allah SWT.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Isra’ ayat 82:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Artinya: Dan kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS. Al- Isra’: 82)
Sebagaimana dalam penjelasan kitab tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab bahawa thabi’un thabi’in menjadikan ayat di atas sebagai awal kelompok baru, yang berhubungan dengan uraian surah ini tentang keistimewaan al-Qur’an dan fungsinya sebagai bukti kebenaran Nabi Muhammad Saw. Ayat ini berbicara tentang al-Qur’an dengan menjelaskan fungsinya sebagai obat penawar penyakit penyakit jiwa.
Kata (شفاء) Syifa’ biasa diartikan kesembuhan atau obat, dan digunakan juga dalam arti keterbebasan dari keterkurungan atau ketiadaan aral dalam memahami manfaat.
Sufi besar, al-Hasan al-Bashri sebagaimana yang dikutip oleh Muhammad Sayyid Thanthawi dan berdasarkan riwayat Abu asy-Syaikh berkata: “Allah menjadikan al-Qur’an obat terhadap penyakit-penyakit hati dan tidak menjadikannya obat untuk penyakit jasmani.”
Thabi’un thabi’in memahami fungsi al-Qur’an sebagai obat dlam arti menghilangkan dengan bukti bukti yang dipaparkannya aneka keraguan/syubhat serta dalih yang boleh jadi hinggap di hati sementara orang. Rahmat Allah yang dilimpahkan-Nya kepada orang-orang mukmin adalah kebahgiaan hidup dalam berbagai aspeknya, seperti pengetahuan tentang ketuhanan yang benar, ahklak yang luhur, amal-amal kebajikan, kehidupan berkualitas di dunia dan akhirat, termasuk perolehan syurga dan ridha-Nya. Karena itu jika al-Qur’an disifati sebagai rahmat untuk orang-orang mukmin, maknanya adalah limpahan karunia kebajikan dan keberkahan yang disediakan Allah bagi mereka yang mengahyati dan merngamalkan nilai-nilai yang diamanatkan al-Qur’an.
Dalam sebuah penelitaian membuktikan bahwa seseorang yang membaca al-Qur’an dengan penuh kekhusyuan dan dibarengi memahami artinya timbul dalam jiwanya ketenangan, kedamaian, dan menjadikan jiwanya lebih baik dan dapat berfikir jernih.
Dalam kehidupan kaum muslimin tidak akan terlepas dari Al-Qur’an karena Al-Qur’an yang sangat lengkap dan sempurna isinya itu diyakini sebagai petunjuk yang sekaligus menjadi pedoman hidup dalam urusan duniawi dan ukhrawi sehingga tidaklah mengherankan jika kaum muslimin selalu kembali kepada Al-Qur’an setiap menghadapi permasalahan kehidupan.
Di samping itu Al-Qur’an juga berfungsi sebagai sumber ajaran Islam, serta sebagai dasar petunjuk di dalam berfikir, berbuat dan beramal sebagai khalifah di muka bumi. Untuk dapat memahami fungsi Al-Qura’an tesebut, maka setiap manusia yang beriman harus berusaha belajar, mengenal, membaca dengan fasih dan benar sesuai dengan aturan membaca (ilmu tajwidnya), makharijul huruf, dan mempelajari baik yang tersurat maupun yang terkandung di dalamnya (tersirat), menghayatinya serta mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Membaca Al-Qur’an dengan fasih dan benar, mengerti akan kandungan ayat yang dibacanya apalagi mau mengamalkannya, niscaya akan mendapat suatu kemuliaan dari Allah SWT, bahkan bila perlu dilakukan dengan termasuk sunnah Rasul. Sabda Nabi SAW :
عَنْ أَبِي ھُرَیْرَةَرَضِيَ االلهُ عَنهُ قَلَ : سَمِعْتُ رَسُولُ االلهِ صَلَّي االلهُ عَلَیهِ وَسَّلَمَ یَقُولُ : مَا اَذَنَ االلهُ لِشَئٍ اَمَّا اَذَنَ لِنَبِيْ حُسْنَ الصَوْتِ یَتَغَنَّي بِا القُرْاَنِ یَجهربهاِ (رواه متفق عليه)
 Artinya : Dari Abu Hurairah r. a berkata: saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Allah SWT tiada senang mendengar seorang yang sedang melakukan bacaan Al-Qur’an dengan suara yang keras dan merdu (HR Mutafaqun alaih). 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kitab tafsir al-Qurtuby

Contoh kitab Tafsir dan MetodologiPenulisannya Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, ...