Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu
Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor 2020.
Al-Qur’an adalah firman Allah yang berfungsi
sebagai mukjizat (bukti kebenaran atas kenabian Muhammad) yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad yang tertulis di dalam mushaf-mushaf, yang diriwayatkan
dengan jalan mutawatir, dan yang membacanya dipandang beribadah.
Untuk mendapatkan jaminan keselamatan dan kebahagiaan hidup baik di
dunia maupun di akhirat melalui Al-Qur’an, maka setiap umat Islam harus
berusaha belajar, mengenal, membaca dan mempelajarinya.
Al-Qur’an diturunkan Allah kepada manusia untuk dibaca dan
diamalkan. Ia telah terbukti menjadi pelita agung dalam memimpin manusia
mengarungi perjalanan hidupnya. Tanpa membaca manusia tidak akan mengerti akan
isinya dan tanpa mengamalkannya manusia tidak akan dapat merasakan kebaikan dan
keutamaan petunjuk Allah dalam Al-Qur’an.
Di era globalisasi ini, banyak sekali
pergeseran nilai dalam kehidupan masyarakat dikarenakan para generasi kita
masih banyak yang belum mampu untuk membaca Al-Qur’an secara baik apalagi
memahaminya. Oleh karena itu, sebagai orang tua
harus mengusahakan sedini mungkin untuk mendidik dan membiasakan membaca
Al-Quran.
Dengan membaca Al-Qur’an atau mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan
hikmah serta meresapinya isinya niscaya akan mendapat petunjuk dari Allah SWT,
serta dapat menenangkan hati. Itulah yang dinamakan Rahmat dari Allah SWT.
Al-Qur’an tidak hanya sebagai kitab suci,
tetapi ia sekaligus merupakan pedoman hidup, sumber ketenangan jiwa serta
dengan membaca Al-Qur’an dan mengetahui isinya dapat diharapkan akan mendapat
Rahmat dari Allah SWT.
Sebagaimana
firman Allah dalam surat Al-Isra’ ayat 82:
وَنُنَزِّلُ
مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ
وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Artinya:
Dan kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang
yang zalim selain kerugian. (QS. Al- Isra’: 82)
Sebagaimana dalam penjelasan kitab tafsir
Al-Misbah karya M. Quraish Shihab bahawa thabi’un thabi’in menjadikan ayat di
atas sebagai awal kelompok baru, yang berhubungan dengan uraian surah ini
tentang keistimewaan al-Qur’an dan fungsinya sebagai bukti kebenaran Nabi
Muhammad Saw. Ayat ini berbicara tentang al-Qur’an
dengan menjelaskan fungsinya sebagai obat penawar penyakit penyakit jiwa.
Kata (شفاء) Syifa’
biasa diartikan kesembuhan atau obat, dan digunakan juga dalam
arti keterbebasan dari keterkurungan atau ketiadaan aral dalam
memahami manfaat.
Sufi besar, al-Hasan al-Bashri sebagaimana
yang dikutip oleh Muhammad Sayyid Thanthawi dan berdasarkan riwayat Abu
asy-Syaikh berkata: “Allah menjadikan al-Qur’an obat terhadap penyakit-penyakit
hati dan tidak menjadikannya obat untuk penyakit jasmani.”
Thabi’un thabi’in memahami fungsi al-Qur’an
sebagai obat dlam arti menghilangkan dengan bukti bukti yang dipaparkannya
aneka keraguan/syubhat serta dalih yang boleh jadi hinggap di hati sementara
orang. Rahmat Allah yang dilimpahkan-Nya kepada orang-orang mukmin adalah
kebahgiaan hidup dalam berbagai aspeknya, seperti pengetahuan tentang ketuhanan
yang benar, ahklak yang luhur, amal-amal kebajikan, kehidupan berkualitas di
dunia dan akhirat, termasuk perolehan syurga dan ridha-Nya. Karena itu jika
al-Qur’an disifati sebagai rahmat untuk orang-orang mukmin, maknanya adalah
limpahan karunia kebajikan dan keberkahan yang disediakan Allah bagi mereka
yang mengahyati dan merngamalkan nilai-nilai yang diamanatkan al-Qur’an.
Dalam sebuah penelitaian membuktikan bahwa
seseorang yang membaca al-Qur’an dengan penuh kekhusyuan dan dibarengi memahami
artinya timbul dalam jiwanya ketenangan, kedamaian, dan menjadikan jiwanya
lebih baik dan dapat berfikir jernih.
Dalam kehidupan kaum muslimin tidak akan
terlepas dari Al-Qur’an karena Al-Qur’an yang sangat lengkap dan sempurna
isinya itu diyakini sebagai petunjuk yang sekaligus menjadi pedoman hidup dalam
urusan duniawi dan ukhrawi sehingga tidaklah mengherankan jika kaum muslimin selalu
kembali kepada Al-Qur’an setiap menghadapi permasalahan kehidupan.
Di samping itu Al-Qur’an juga berfungsi sebagai sumber ajaran
Islam, serta sebagai dasar petunjuk di dalam berfikir, berbuat dan beramal sebagai
khalifah di muka bumi. Untuk dapat memahami fungsi Al-Qura’an tesebut, maka
setiap manusia yang beriman harus berusaha belajar, mengenal, membaca dengan
fasih dan benar sesuai dengan aturan membaca (ilmu tajwidnya), makharijul
huruf, dan mempelajari baik yang tersurat maupun yang terkandung di dalamnya
(tersirat), menghayatinya serta mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an dalam
kehidupan sehari-hari.
Membaca Al-Qur’an dengan fasih dan benar, mengerti akan
kandungan ayat yang dibacanya apalagi mau mengamalkannya, niscaya akan mendapat
suatu kemuliaan dari Allah SWT, bahkan bila perlu dilakukan dengan termasuk
sunnah Rasul. Sabda Nabi SAW :
عَنْ
أَبِي ھُرَیْرَةَرَضِيَ
االلهُ عَنهُ قَلَ : سَمِعْتُ رَسُولُ االلهِ صَلَّي االلهُ عَلَیهِ وَسَّلَمَ
یَقُولُ : مَا اَذَنَ االلهُ لِشَئٍ اَمَّا اَذَنَ لِنَبِيْ حُسْنَ الصَوْتِ
یَتَغَنَّي بِا القُرْاَنِ یَجهربهاِ (رواه متفق عليه)
Artinya : Dari Abu Hurairah r. a berkata: saya
telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Allah SWT tiada senang mendengar
seorang yang sedang melakukan bacaan Al-Qur’an dengan suara yang keras dan
merdu (HR Mutafaqun alaih).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar