Selasa, 15 Desember 2020

dasar Paradigma Psikoterapi Islam



Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor 2020.

Paradigma adalah sistem atau model konseptual yang menggambarkan suatu aspek kenyataan dimana nantinya dapat ditarik kesimpulan-kesimpulan tentang bagaimana atau apa langkah-langkah yang harus diambil untuk menjalankan suatu penelitian.
Lebih lanjut, al Thabari mengatakan bahwa Psikoterapis yang bijak, komnikatif dan punya selera humor sanggup mempraktikkan metode psikoterapi dengan baik. Ia menduga beberapa sifat manusia yang bisa menggiringnya kepada gangguan jiwa antara lain; tamak, dengki, iri, benci, tidak peduli dan suka berkhayal. Pengobatan terbaik adalah melalui cara prefentif, tentunya dengan menjauhi sifat-sifat tadi, menjalani pola hidup sehat, dan menjalankan ajaran agama.
Psikoterapi Islam jelas berakar pada Al-Qur‟an dan As Sunah (normatif), empiris (pengalaman, yakni dapat dijabarkan sebagai berikut:

1.    1.   Al-Quran
 Bahwasanya konsep penyembuhan, pengobatan atau perawatan dari suatu penyakit ysng terdapat mengandung makna ntuk:
a. Menguatkan keimanan dengan Al-Qur‟an
b. Membenarkan suatu keyakinan bahwa barang siapa ditimpa suatu penyakit, maka sesungguhnya ia mampu mengobati penyakit itu kapan saja ia kehendaki dengan mencari metode atau penyembuhan
 c. Keyakinan orang yang mempercayai (beriman) kepada Rasulullah SAW., bahwa Tuhannya telah memberi petunjuk kepadanya mengenai pelajaran-pelajaran tentang rahasia-rahasia Al Qur‟an dan dari padanya terdapat rahsia pengobatan atau penyembuhan yang bermakna.
Dalam hal itu Al Qur‟an sebagai penyembuh atau dibagi mejadi dua Bagian:
Pertama, bersifat umum; seluruh isi Al Qur‟an secara maknawi, surat-surat, ayat-ayat maupun hurufnya adalah memiliki potensi penyembuhan atau obat.
Kedua, bersifat khusus yakni bukan seluruh Al-Qur‟an, melainkan hanya sebagian, bahwa ada dari ayat-ayat atau surat-surat dapat menjadi obat atau penyembuhan terhadap suatu penyakit secara spesifik bagi orang-orang yang beriman dan meyakini akan kekuasaan Allah Ta‟ala .
Menurut Hamdani (2015: 291), Kehususan-kehususan itu dapat dilihat dalam beberapa ayat yang memiliki kekhususan pula seperti:
a. Asmaul Khusna Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayakan imam bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra; “Sesungguhnya Allah Ta‟ala mempunya sembian puluh sembilan nama, seratus kurang satu, barang siapa telah menghafalnya masuk surga.”
 b. Kalimat “Basmalah” Rasulullah SAW menyatakan “Apabila seseorang ingin memulai suatu pekerjaan hendak ia memulainya dengan membaca kalimat “basmalah” agar selama melakukan pekerjaan itu senantiasa di dalam bimbingan rahmat Allah Ta‟ala
c. surat Al Fatihah Rasulullah SAW, menyatakan, pembukaan kitab (Surat AlFatihah) merupakan obat untuk semua penyakit, kecuali yang beracun dan racun kematian (HR. Baihaqi dan Jabir ra).
d. Beberapa surat yang lain Rasulullah SAW, menyatakan, barangsiapa telah membaca dua ayat yang terakhir dari surat Al Baqarah pada waktu alam hari niscaya keduanya mematikannya; membaca ayat kursi menjauhkan diri dari syetan sehingga pagi hari; membaca surat Al Kahfi dapat mendatangkan kebahagiaan.

2. As Sunah
 Ada beberapa hadis yang menyatakan bagaimana Rasulullah SAW melakukan penyembuhan secara psikoterapi diantaranya; Dari „Aisyah ra ., beliau menyatakan “Bahwasanya apabila Rasulullah SAW. Sakit, beliau membaca dua surat Al Qur‟an (Al Falaq dan An Naas) untuk dirinya dan meniupkannya. Kemudian ketika sakitnya bertambah keras, maka sayalah yang membacanya lalu saya usapkan ketempat yang sakit itu dengan menggunakan tangan beliau, demi mengharapkan berkahnya.” (HR Muslim)
3.Empirik (pengalaman) orang-orang shaleh.
Pengalaman para sahabat ketika di tengah-tengah perkampungan mereka menemukan seorang kepala suku atau suatu kaum telah tersengat binatang berbisa. Salah seorang dari sahabat Nabi Muhammad SAW mengobati dan menghilangkan bisa itu dengan membaca surat Al fatihah.
Sebagaimana beberapa tahun penulis (KH. Hamdan Bakhran) telah melakukan terapi dengan pendekatan spiritual yaitu sejak tahun 1985 hingga hari ini. Penulis mengkaji makna-makna yang tersurat maupun tersirat dari beberapa surat maupun ayat al Qur‟an yang mengandung energi atau potensial penyembuh, sebagaimana yang disebutkan dalam Hadist-hadis Nabi .
 Adapun Klien yang merasa pasif dan tidak dapat melakukan terapi sendiri maka penulis lebih aktif dan lebih berinisiatif membantu mereka agar dapat keluar dari beban-beban yang mengganggu kejiwaan mereka. Sistematika yang dimaksud adalah sebagaimana berikut:
 a. Penulis (Hamdan Bakhran Adz-Dzakiey) melakukan shalat sunat hajat dua (2) rakaat atau empat (4) rakaat sebagai wadah permohonan kepada Allah
 b. Setelah shalat memohon pengampunan kepada Allah untuk diri penulis sendiri maupun untuk klien
 c. Penulis membaca shalawa Nabi, karena shalawat itu berfungsi sebagai pengantar dan pembuka untuk terkabulnya do‟a.
 d. Membaca Al Fatihah, ayat kursi, al ikhlas, al falaq, an naas sebagaimana dalil yang diatas, kemudian setelah membaca itu penulis (KH Hamdan Bakhran) berdo‟a untuk kesembuhan si klien
e. Setelah itu beliau meniupkan energi dari do‟a-do‟a yang telah beliau lakukan kedalam air sebagai sarana bagi klien dan agar dapat di minum sambil beri‟tikad bahwa Allah jualah Yang Maha Penyembuh.
 f. Klien yang aktif atau sehat dapat melakukan sendiri sebagaimana yang beliau lakukan. Dan Alkhamdulillah cara ini berulang kali beliau lakukan dan banyak memberikan manfaat dan kesembuhan bagi mereka yang membutuhkan pertolongan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kitab tafsir al-Qurtuby

Contoh kitab Tafsir dan MetodologiPenulisannya Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, ...