Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu
Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor 2020.
Paradigma
adalah sistem atau model konseptual yang menggambarkan suatu aspek kenyataan
dimana nantinya dapat ditarik kesimpulan-kesimpulan tentang bagaimana atau apa
langkah-langkah yang harus diambil untuk menjalankan suatu penelitian.
Lebih lanjut, al Thabari mengatakan bahwa Psikoterapis
yang bijak, komnikatif dan punya selera humor sanggup mempraktikkan metode
psikoterapi dengan baik. Ia menduga
beberapa sifat manusia yang bisa menggiringnya kepada gangguan jiwa antara
lain; tamak, dengki, iri, benci, tidak peduli dan suka berkhayal. Pengobatan
terbaik adalah melalui cara prefentif, tentunya dengan menjauhi sifat-sifat
tadi, menjalani pola hidup sehat, dan menjalankan ajaran agama.
Psikoterapi
Islam jelas berakar pada Al-Qur‟an dan As Sunah (normatif), empiris
(pengalaman, yakni dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. 1. Al-Qur’an
Bahwasanya konsep penyembuhan, pengobatan atau
perawatan dari suatu penyakit ysng terdapat mengandung makna ntuk:
a. Menguatkan keimanan dengan Al-Qur‟an
b. Membenarkan suatu keyakinan bahwa barang siapa ditimpa suatu penyakit,
maka sesungguhnya ia mampu mengobati penyakit itu kapan saja ia kehendaki
dengan mencari metode atau penyembuhan
c. Keyakinan orang yang mempercayai
(beriman) kepada Rasulullah SAW., bahwa Tuhannya telah memberi petunjuk
kepadanya mengenai pelajaran-pelajaran tentang rahasia-rahasia Al Qur‟an dan
dari padanya terdapat rahsia pengobatan atau penyembuhan yang bermakna.
Dalam
hal itu Al Qur‟an sebagai penyembuh atau dibagi mejadi dua Bagian:
Pertama,
bersifat umum; seluruh isi Al Qur‟an secara maknawi, surat-surat, ayat-ayat
maupun hurufnya adalah memiliki potensi penyembuhan atau obat.
Kedua, bersifat khusus yakni bukan seluruh Al-Qur‟an,
melainkan hanya sebagian, bahwa ada dari ayat-ayat atau surat-surat dapat
menjadi obat atau penyembuhan terhadap suatu penyakit secara spesifik bagi
orang-orang yang beriman dan meyakini akan kekuasaan Allah Ta‟ala .
Menurut
Hamdani (2015: 291), Kehususan-kehususan itu dapat dilihat dalam beberapa ayat
yang memiliki kekhususan pula seperti:
a. Asmaul Khusna Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang
diriwayakan imam bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra; “Sesungguhnya Allah
Ta‟ala mempunya sembian puluh sembilan nama, seratus kurang satu, barang siapa
telah menghafalnya masuk surga.”
b. Kalimat
“Basmalah” Rasulullah SAW menyatakan “Apabila seseorang ingin memulai suatu
pekerjaan hendak ia memulainya dengan membaca kalimat “basmalah” agar selama
melakukan pekerjaan itu senantiasa di dalam bimbingan rahmat Allah Ta‟ala
c. surat Al Fatihah Rasulullah SAW, menyatakan, pembukaan
kitab (Surat AlFatihah) merupakan obat untuk semua penyakit, kecuali yang
beracun dan racun kematian (HR. Baihaqi dan Jabir ra).
d. Beberapa surat yang lain Rasulullah SAW, menyatakan,
barangsiapa telah membaca dua ayat yang terakhir dari surat Al Baqarah pada
waktu alam hari niscaya keduanya mematikannya; membaca ayat kursi menjauhkan
diri dari syetan sehingga pagi hari; membaca surat Al Kahfi dapat mendatangkan
kebahagiaan.
2. As Sunah
Ada beberapa hadis
yang menyatakan bagaimana Rasulullah SAW melakukan penyembuhan secara psikoterapi
diantaranya; Dari „Aisyah ra ., beliau menyatakan “Bahwasanya apabila
Rasulullah SAW. Sakit, beliau
membaca dua surat Al Qur‟an (Al Falaq dan An Naas) untuk dirinya dan
meniupkannya. Kemudian ketika sakitnya bertambah keras, maka sayalah yang membacanya
lalu saya usapkan ketempat yang sakit itu dengan menggunakan tangan beliau,
demi mengharapkan berkahnya.” (HR Muslim)
3.Empirik
(pengalaman) orang-orang shaleh.
Pengalaman
para sahabat ketika di tengah-tengah perkampungan mereka menemukan seorang kepala
suku atau suatu kaum telah tersengat binatang berbisa. Salah seorang dari
sahabat Nabi Muhammad SAW mengobati dan menghilangkan bisa itu dengan membaca
surat Al fatihah.
Sebagaimana
beberapa tahun penulis (KH. Hamdan Bakhran) telah melakukan terapi dengan
pendekatan spiritual yaitu sejak tahun 1985 hingga hari ini. Penulis mengkaji
makna-makna yang tersurat maupun tersirat dari beberapa surat maupun ayat al
Qur‟an yang mengandung energi atau potensial penyembuh, sebagaimana yang
disebutkan dalam Hadist-hadis Nabi .
Adapun Klien yang
merasa pasif dan tidak dapat melakukan terapi sendiri maka penulis lebih aktif
dan lebih berinisiatif membantu mereka agar dapat keluar dari beban-beban yang
mengganggu kejiwaan mereka. Sistematika yang dimaksud adalah sebagaimana
berikut:
a. Penulis (Hamdan
Bakhran Adz-Dzakiey) melakukan shalat sunat hajat dua (2) rakaat atau empat (4)
rakaat sebagai wadah permohonan kepada Allah
b. Setelah shalat
memohon pengampunan kepada Allah untuk diri penulis sendiri maupun untuk klien
c. Penulis membaca
shalawa Nabi, karena shalawat itu berfungsi sebagai pengantar dan pembuka untuk
terkabulnya do‟a.
d. Membaca Al
Fatihah, ayat kursi, al ikhlas, al falaq, an naas sebagaimana dalil yang
diatas, kemudian setelah membaca itu penulis (KH Hamdan Bakhran) berdo‟a untuk
kesembuhan si klien
e. Setelah itu beliau meniupkan energi dari do‟a-do‟a
yang telah beliau lakukan kedalam air sebagai sarana bagi klien dan agar dapat
di minum sambil beri‟tikad bahwa Allah jualah Yang Maha Penyembuh.
f. Klien yang
aktif atau sehat dapat melakukan sendiri sebagaimana yang beliau lakukan. Dan Alkhamdulillah cara ini berulang kali beliau lakukan dan banyak
memberikan manfaat dan kesembuhan bagi mereka yang membutuhkan pertolongan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar