Syarat Dan Adab Penafsir Al-Qur’an
Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu
Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor 2020.
Untuk bisa menafsirkan
al-Qur’an, seseorang harus memenuhi beberapa kreteria diantaranya:
1)- Beraqidah shahihah, karena aqidah sangat pengaruh dalam menafsirkan al-Qur’an.
2)- Tidak dengan hawa nafsu
semata, Karena dengan hawa nafsu seseorang akan memenangkan pendapatnya sendiri
tanpa melilhat dalil yang ada. Bahkan terkadang mengalihkan suatu ayat hanya
untuk memenangkan pendapat atau madzhabnya.
3)- Mengikuti urut-urutan dalam
menafsirkan al-Qur’an seperti penafsiran dengan al-Qur’an, kemudian as-sunnah,
perkataan para sahabat dan perkataan para tabi’in.
4)- Faham bahasa arab dan
perangkat-perangkatnya, karena al-Qur’an turun dengan bahasa arab. Mujahid berkata; “Tidak boleh seorangpun yang beriman kepada
Allah dan hari akhir, berbicara tentang Kitabullah (al-Qur’an) jikalau tidak
menguasai bahasa arab“.
5)- memiliki pemahaman yang
mendalam agar bisa mentaujih (mengarahkan) suatu makna ataumengistimbat suatu hukum sesuai dengan nusus syari’ah,
6)- Faham dengan pokok-pokok
ilmu yang ada hubungannya dengan al-Qur’an seperti ilmu nahwu(grammer), al-Isytiqoq (pecahan atau perubahan dari suatu kata ke kata yang
lainnya), al-ma’ani, al-bayan, al-badi’, ilmu qiroat (macam-macam bacaan dalam al-Qur’an), aqidah
shaihah, ushul fiqh, asbabunnuzul, kisah-kisah dalam islam, mengetahui nasikh wal mansukh, fiqh, hadits,
dan lainnya yang dibutuhkan dalam menafsirkan.
Adapun adab yang harus dimiliki
seorang mufassir adalah sebagai berikut :
1. Niatnya harus bagus, hanya untuk mencari
keridloan Allah semata. Karena seluruh amalan tergantung dari niatannya (lihat
hadist Umar bin Khottob tentang niat yang diriwayatkan oleh bukhori dan muslim
diawal kitabnya dan dinukil oleh Imam Nawawy dalam buku Arba’in nya).
2. Berakhlak mulia, agar ilmunya bermanfaat dan
dapat dicontoh oleh orang lain
3. Mengamalkan ilmunya, karena dengan
merealisasikan apa yang dimilikinya akan mendapatkan penerimaan yang lebih
baik.
4. Hati-hati dalam menukil sesuatu, tidak menulis
atau berbicara kecuali setelah menelitinya terlebih dahulu kebenarannya.
5. Berani dalam menyuarakan kebenaran dimana dan
kapanpun dia berada.
6. Tenang dan tidak tergesa-gesa terhadap
sesuatu. Baik dalam penulisan maupun dalam penyampaian. Dengan menggunakan
metode yang sistematis dalam menafsirkan suatu ayat. Memulai dari asbabunnuzul,
makna kalimat, menerangkan susunan kata dengan melihat dari sudut balagho,
kemudian menerangkan maksud ayat secara global dan diakhiri dengan mengistimbat
hukum atau faedah yang ada pada ayat tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar